Pamekasan - Sebagian nelayan di wilayah Kecamatan Tlanakan, Pamekasan dalam sepekan ini berhenti melaut akibat kesulitan mendapatkan bahan bakar jenis solar. Menurut nelayan di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Abd Rasyid, Kamis, dalam sepekan terakhir ini nelayan kesulitan untuk membeli solar sebagai bahan bakar perahu mereka. Di sejumlah pengecer BBM jenis solar di wilayah itu kosong. "Makanya kami terpaksa berhenti malaut, karena solarnya tidak ada. Bahan bakar perahu motor yang digunakan nelayan di sini kan semuanya jenis solar," kata Rasyid, menjelaskan. Sementara untuk membeli secara langsung ke SPBU yang ada di kota, kata dia, dilarang dengan alasan solar SPBU yang ada di kota tidak untuk nelayan, melainkan untuk pemilik kendaraan bermotor. Abd Rasyid mengaku, telah menyampaikan persoalan yang dihadapi para nelayan di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan itu ke pemkab melalui aparat desa setempat, namun sampai saat ini belum ada respon. "Kami berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi persoalan ini, karena ini kan menyangkut kebutuhan rakyat kecil seperti kami," uacapnya. Nelayan yang melaut di wilayah pesisir Desa Branta ini hanya nelayan pancing, yakni nelayan yang hanya menggunakan perahu kecil dan menggunakan layar. Sedangkan jenis perahu motor, seperti nelayan payangan, nelayan jaring dan kardan lebih banyak yang tidak melaut. "Kalau hanya memiliki persiapan solar 20 liter saja tidak cukup. Kami kan melaut ke tengah-tengah sana, kadang hingga mendekati daratan di Jawa," kata nelayan lain di desa itu, Ahmad. Tidak hanya nelayan di pesisir Desa Branta, keluhan kesulitan mendapatkan BBM jenis solar juga disampaikan oleh sebagian nelayan di Desa Baddurih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Madura. Kepala Bagian Perekonomian Pemkab Pamekasan Jhon Yulianto mengatakan, akan melakukan koordinasi terkait persoalan itu dengan pihak Pertamina. Menurut Jhon, pihaknya masih akan mencarikan solusi, karena menurut dia, bagi nelayan solar BBM jenis solar memang sudah menjadi kebutuhan. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026