Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS, Selasa siang, turun mendekati Rp9.000 per dolar, karena pelaku pasar cenderung melepas mata uang lokal sambil menunggu isu baru dari kawasan Eropa. Nila tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta, turun 35 poin menjadi Rp8.985 per dolar dari sebelumnya Rp8.950. Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib di Jakarta, Selasa mengatakan, pasar uang lesu, karena pelaku masih menunggu kabar positif dari kawasan Eropa yang saat ini masih tak menentu. Karena krisis di Eropa masih belum ada tanda-tanda positif, apalagi krisis itu sudah merembet ke berbagai negara Eropa lainnya, katanya. Kostaman Thayib mengatakan, para pelaku pasar lebih cenderung wait and see' sambil melepas rupiah karena menguatnya dolar AS di pasar regional. "Eropa masih berada dalam masa-masa tersulit," katanya. Meski demikian, lanjut dia, rupiah akan kembali menjauhi level Rp9.000 per dolar, karena Bank Indonesia (BI) akan intervensi pasar. BI akan menjaga rupiah tidak berada di atas Rp9.000 per dolar, karena khawatia apabila menembus level tersebut, maka koreksi terhadap rupiah akan berlanjut, ucapnya. Tekanan negatif pasar, menurut dia terutama berasal dari merosot euro terhadap dolar AS. Euro bahkan berpotensi turun lebih dalam lagi yang akan terus menekan rupiah kembali merosot, ucapnya. Sementara itu, Direktur Utama PT FinanCorpindo Nusa, Edwin Sinaga, optimis BI akan menjaga rupiah tetap dibawah Rp9.000 per dolar. Apalagi BI memiliki cadangan devisa yang cukup besar untuk melakukan intervensi pasar, ucapnya.


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026