Jakarta - Kepala Kepolisian Negara RI, Jenderal Pol Timur Pradopo menyatakan perlunya keterlibatan masyarakat dalam menghadap ancaman teroris, selain latihan bersama antara TNI dan Polri. "Dalam menghadapi ancaman teroris salah satunya menyiapkan latihan, tapi bukan hanya latihan akan tetapi perlu keterlibatan masyarakat," kata Timur saat pembukaan latihan gabungan "Waspada Nusa III" di Markas Komando Brimob Kelapa Dua, Depok, Selasa. Kapolri menyatakan perlu memelihara kemampuanTNI dan Polri dalam menghadapi ancaman teroris. Kemudian langkah-langkah preemtif terus dikembangkan dan melakukan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). "Langkat preemtif terus kita kembangkan dengan koordinasi BNPT. Kemudian hari ini khusus kerja sama bagaimana kita mnghadapi langkah-langkah nyata menghadapi teroris itu yang dilakukan dalam pelaksanaan latihan," papar Timur. Kapolri mengatakan hal ini terkait dengan ancaman teroris yang dapat terjadi di mana dan kapan saja, di mana faham terorisme berasal dari faham radikalisme. "Aksi terorisme menimbulkan dampak negatif yang cukup luas maka perlu penegakan hukum yang tegas dan tindakan 'soft power'," kata Timur, menegaskan. Latihan gabungan "Waspada Nusa III" pada 25 hingga 27 Oktober 2011 di beberapa tempat strategis di Jakarta dan Banten yang melibatkan 2000 personel gabungan TNI dan Polri. Latihan kesiapsiagaan dan ketanggapsegeraan penanggulangan aksi teror berasal dari unsur satuan khusus Polri-TNI, seperti Densus 88, Sat 81-Gultor, Denjaka, dan Den Bravo-90. Materi gladi mako adalah latihan perencanaan operasi khusus dan perumusan analisis ancaman terkini atau kondisi terkait. Sementara itu, pada 27 Oktober 2011, para personel langsung terjun ke lapangan.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026