Pekanbaru - Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Provinsi Riau, Johny G Worotikan, mengatakan, kemudahan akses dunia maya di era sekarang secara tidak langsung mempersempit ruang gerak calo tenaga kerja Indonesia.
"Siapa yang tidak resah dengan keberadaan calo-calo yang membuatkan paspor dan visa bagi tenaga kerja Indonesia (TKI) secara ilegal? Tidak hanya negara yang dirugikan, tapi juga TKI itu sendiri khan," katanya di Pekanbaru, Rabu.
Dengan perkembangan teknologi, terutama di bidang informasi, khususnya jejaring internet, menurutnya, membuat segala akses yang tadinya susah, menjadi sangat mudah.
"Hubungan orang per orang dan antar komunitas menjadi sangat luas, karena dunia maya yang semakin tidak terbatas. Hal demikian mendatangkan keuntungan tersendiri bagi dunia ketenagakerjaan tanah air, terutama bagi mereka yang berminat untuk menjadi TKI," ujarnya.
Johny Worotikan membuktikan itu dengan menunjuk terjadinya peningkatan signifikan atas jumlah calon TKI Mandiri yang mencari akses sendiri ke luar negeri (melalui jejaring internet).
Ia meyakini, hal tersebut disebabkan pengetahuan yang luas dari para calon TKI tersebut. Dan ini tentunya membuka akses atas lapangan pekerjaan dalam skala internasional melalui jejaring dunia maya.
"Namun untuk menjadi TKI, tidak cukup hanya bermodalkan keahlian. Harus ada akses yang menghubungkan calon TKI tersebut dengan sejumlah ruang kerja yang ada di berbagai negara," tuturnya.
Upaya ini sekarang, lanjutnya, dapat dilakukan dengan mudah, yakni cukup duduk manis di depan komputer, dan mencari daftar lowongan kerja internasional lewat intenet.
"Bahkan bisa lewat telepon genggam (HP)," katanya.
Beberapa tahun kedepan, Johny Worotikan juga meyakini para pencari kerja tidak akan lagi membutuhkan kartu tanda pencari kerja atau yang dikenal kartu kuning.
Mereka, para pencari kerja (pencaker), tambahnya, bisa langsung mengakseskan diri ke sejumlah perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
"Terlebih saat ini sejumlah perusahaan terkemuka, baik yang berada di dalam maupun luar negeri telah memiliki alat pendukung promosi sendiri atau "webside" yang isinya merupakan program kerja termasuk kebutuhan ahli," ujarnya.
Dengan perkembangan teknologi khususnya di dunia maya, Johny Worotikan memastikan para calo yang biasa menawarkan jasa kepengurusan ilegal akan dapat teratasi dengan sendirinya.
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.