Jerusalem (ANTARA/Reuter) - Israel dan penguasa Jalur Gaza, Hamas, telah setuju untuk menukar ratusan tawanan Palestina dengan satu-satunya tawanan Israel, serdadu Gilad Shalit, memecahkan salah satu masalah yang sangat emosif dan liat antara keduanya itu. PM Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan di Jerusalem bahwa perjanjian itu pada akhirnya diringkas dan kedua pihak tandatangani. Di Jalur Gaza, Hamas mengkonfirmasi bahwa mereka hanya tinggal merampungkan pengaturan teknis bagi pertukaran itu dalam beberapa hari mendatang. Perjanjian terobosan itu, setelah banyak kesalahan pada awal tahun-tahun upaya rahasia untuk membebaskan Shalit sejak ia ditangkap pada 2006, tidak berhubungan langsung dengan pembicaraan damai Timur Tengah. Tapi hal itu tentu akan meningkatkan suasana bagi dimulainya lagi pembicaraan yang telah macet selama setahun lebih itu. Sebuah sumber yang terlibat dalam pembicaraan itu mengatakan perjanjian yang lama sukar difahami itu telah ditengahi Mesir, yang memainkan peran yang mungkin akan memperkuat hubungan Israel dengan Kairo, yang telah menderita sejak jatuhnya pemimpin Mesir Hosni Mubarak dalam revolusi Mesir tahun ini. Abu Ubeida, seorang juru bicara sayap bersenjata Hamas, mengatakan bahwa perjanjian itu pada prinsipnya telah disetujui. "Kami sedang dalam proses menyelesaikan pengaturan teknis untuk merampungkan perjanjian itu dalam beberapa hari," katanya. Perjanjian itu meminta pembebasan 1.000 warga Palestina dalam dua tahap, pertama melibatkan 450 tawanan untuk ditukar dengan Shalit, dengan sisanya 550 akan dibebaskan kemudian. Pertukaran itu pasti akan disambut dengan kelegaan pada kedua pihak. Kampanye oleh keluarga Shalit telah membuatnya masalah di Israel dan pembebasannya sebagai ujian bagi pemerintah Netanyahu. Palestina juga telah lama menuntut pembebasan ratusan warga Palestina yang mereka anggap sebagai tawanan politik. Televisi Israel mengutip ucapan Netanyahu sebagaimana diceritakan pada orangtua Shalit bahwa sejak ia berkuasa tiga tahun lalu ia telah menunggu kesempatan untuk memberitahu mereka mengenai perjanjian itu. Isteri Marwan Barghouti, seorang aktivis kharismatis yang dilihat sebagai pemimpin Palestina masa depan, mengatakan pada Reuters di Tepi Barat bahwa ia dengan tak sabar menunggu pernyaaan bahwa ia (Marwan) akan masuk dalam pertukaran tawanan itu. Di Gaza, keluarga orang-orang yang dipenjarakan seumur hidup oleh Israel menunggu pengumuman bahwa nama mereka akan ada dalam daftar. Masalah penting yang masih ada dalam pembicaraan awal adalah keengganan Israel untuk memenuhi permintaan Hamas untuk membebaskan para tawanan yang dihukum karena terlibat dalam serangan mematikan terhadap Israel. Israel telah melakukan beberapa pertukaran tawanan yang tak seimbang pada masa lalu, khususnya pada 1985 ketika ratusan tawanan Palestina dibebaskan sebagai pertukaran bagi beberapa tentara yang ditangkap oleh sebuah kelompok gerilyawan di Libanon. Shalit, yang berusia 19 saat ditangkap pada 2006, terakhir telihat dalam sebuah rekaman video yang dikeluarkan pada September 2009. (*)


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026