Surabaya - Ada sederet rasa kecewa di benak masyarakat Indonesia, karena korupsi, pornografi, kekerasan, kemiskinan, terorisme, bencana demi bencana, kapitalisme, liberalisme, dan kriminalitas yang mengemuka dalam pemberitaan. Namun, selang beberapa tahun terakhir, ada sepotong rasa bangga pada selembar kain batik setelah PBB mengakui Batik sebagai kekayaan tak benda milik bangsa Indonesia sejak 2 Oktober 2009. Agaknya, kebanggaan itulah yang mendorong Komunitas Batik Jawa Timur di Surabaya (KiBaS) untuk mencari Batik Jatim berfilosofi yang dilestarikan turun temurun dari generasi ke generasi. "Saya penasaran, masak batik yang berfilosofi hanya ada dari Jateng, karena itu saya mencari kemungkinan adanya batik berfilosofi di Jatim," ucap Ketua KIBAS, Lintu Tulistyantoro, kepada ANTARA di sela-sela diskusi batik di Surabaya (1/10). Ia mengaku Kibas terbentuk pada tahun 2008 atau setahun menjelang penetapan Batik oleh PBB pada 2 Oktober 2009, sehingga pembentukan Kibas tidak ada kaitannya dengan PBB, tapi pengakuan PBB itu menyemangati pencarian Batik Jatim Berfilosofi. "Akhirnya, kami menemukan 14 Batik Jatim Berfilosofi, karena itu kami berencana menerbitkan buku tentang Batik Jatim Berfilosofi pada akhir tahun 2011," tutur dosen Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya itu. Namun, tukas pimpinan komunitas yang beranggotakan sembilan komunitas batik se-Jatim itu, dalam buku itu tidak menutup kemungkinan akan ada tambahan untuk 14 Batik Jatim Berfilosofi yang sudah ditemukan hingga penerbitannya. "14 Batik Jatim Berfilosofi itu kami temukan bukan mengada-ada, tapi kami mengacu pada artefak yang masih ada, wawancara perajin yang melestarikannya, dan cara berpikir masyarakat, karena ada masyarakat kita yang sangat vulgar," ungkapnya. Baginya, Batik Jawa Timur itu merupakan batik yang hidup di antara kalangan masyarakat dan bahkan banyak wilayah di Jatim yang memiliki budaya perbatikan hingga kini, bahkan mulai dari Tuban di pantai utara (pantura) di barat hingga Banyuwangi di pantura timur. "Di antara wilayah perbatikan itu ada beberapa motif batik khusus yang digunakan untuk ritual tertentu, seperti lamaran, mantenan (pernikahan), kelahiran, dan kematian. Semuanya tak terlepas dari batik," tandasnya. Di Jatim, Batik Berfilosofi antara lain Rawan (Tulungagung), Wahyu (Tulungagung dan Tuban), Gringsing (Tuban dan Tulungagung), Sidomukti (Tulungagung), dan Satrio Manah (Mojokerto, Tuban, dan Tulungagung). Selain itu, Mahkota (Sidoarjo), Pring Sedapur (Sidoarjo), Kembang Melathe (Madura), Kangkung Setingkes (Banyuwangi), Per Keper (Pamekasan), Tong Centong (Pamekasan), Sabet Rante (Pamekasan), Tasek Melaya (Tanjungbumi Bangkalan), Jung Drajat (Madura). "Gringsing berasal dari kata 'gering' (Bahasa Jawa) yang berarti kurus. Harapannya, pemakai batik gringsing tidak akan gering lagi atau dalam istilah Jawa disebut sedulur papat lima panjer (empat arah dengan lima sebagai pusat). Simbolnya lingkaran atau bulatan dengan titik di tengahnya," paparnya. Keseimbangan Di hadapan sekitar 60 peserta diskusi dari kalangan praktisi dan pemerhati batik itu, ia menjelaskan batik dengan tema gringsing memiliki filosofi yakni keseimbangan. "Kalau pria bertemu wanita, kalau negatif bertemu positif, maka akan terjadi keseimbangan. Keseimbangan itu kemakmuran, kesuburan," timpalnya di sela-sela menjadi pembicara dalam Diskusi Batik di Galeri Seni 'House of Sampoerna' (HoS) Surabaya untuk menyemarakkan pameran 'Batik Jatim Berfilosofi' pada 16 September hingga 9 Oktober. Untuk tema pernikahan, katanya, mulai dari batik untuk lamaran hingga pasca-pernikahan. "Antara lain batik mahkota dari Sidoarjo yang menandai bahwa pemakainya yang mau menikah merupakan orang yang terpandang," urainya. Di Madura, batik pernikahan itu lebih beragam lagi filosofinya, seperti per-keper yang bergambar jagat dan sepasang kupu-kupu melambangkan pemakainya siap menjadi sepasang sejoli yang siap sehidup-semati. "Ada juga batik sabet rante yang bergambar tomat kecil yang melingkar di leher (kalung) melambangkan pemakainya siap atau setuju dinikahi, sedangkan batik semen yang bergambar 'meru', 'lar' (sayap), gunung, awan, dan api melambangkan pemakainya siap menjaga harmonisasi," kilahnya. Di Sidoarjo, batik pernikahan yang ada dikenal dengan pring sedapur yang bergambar bambu dan burung melambangkan pemakainya siap bertahan dalam suka dan duka atau siap hidup di atas (kaya) dan di bawah (miskin). Ada pula batik ombak dari Tulungagung, Bangkalan, dan Pamekasan yang melambangkan batik dari daerah pesisir, lalu ada batik jung-derajat dari Madura untuk bangsawan, atau batik setorjon dari Sidoarjo yang merupakan pengaruh Madura. Pandangan itu dibenarkan Manajer Museum HoS Surabaya Rani Anggraini. "Batik Jatim Berfilosofi itu membuktikan bahwa Jatim juga memiliki batik khas. Bukan hanya batik Pekalongan, Solo, atau Yogyakarta seperti yang dikenal selama ini," ujarnya. Ia menegaskan bahwa Batik Berfilosofi itu tidak sekadar ada kaitannya dengan sejarah masa lalu, namun nilai-nilai yang terkandung dalam motif batik merupakan inspirasi menarik bagi generasi muda sekarang. Tidak jauh berbeda dengan itu, pimpinan komunitas batik "Klampis Ireng" Dukuh Kupang Surabaya, Prima, menilai batik berfilosofi itu ada dimana-mana, baik Jateng maupun daerah lain seperti Jatim. "Batik Berfilosofi itu merupakan penghargaan dan penghormatan kepada nenek moyang dan karyanya, karena itu batik berfilosofi itu tidak hanya ada di Jateng, bahkan juga tidak hanya ada di masa lalu, tapi juga di masa kini bila sudah menjadi sejarah," tandasnya. Masalahnya, penghargaan dan penghormatan dalam bentuk Batik Berfilosofi itu masih belum dipahami generasi sekarang dengan argumentasi pemakaian batik itu. "Batik sekadar dipakai tanpa tahu maknanya, karena itu dokumentasi dari KIBAS tentang Batik Berfilosofi itu penting untuk mendongkrak rasa bangga terhadap batik yang sesungguhnya," ungkap arek Surabaya yang juga penemu canting elektrik dari bambu itu. //Edy M Yakub// (*)


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026