Kediri - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, Jawa Timur, memprediksi adanya timbunan beras impor di gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional (Subdivre) V, bisa mencegah kenaikan harga bahan pokok, terutama beras. "Beras itu kan bisa dikatakan cadangan pemerintah, sesuai dengan mekanisme pasar, jika stok banyak, harga murah, tapi jika stok sedikit, harga bisa naik. Dengan adanya beras itu, dimungkinkan harga beras akan lebih stabil," kata Kepala Seksi Statistik dan Distribusi BPS Kediri Arief Dwi P di Kediri, Selasa. Ia belum tahu secara pasti, tentang tingkat kestabilan, apakah mampu menurunkan harga beras di pasar, yang saat ini masih tinggi. Ia hanya menyebut, adanya beras cadangan pemerintah, ikut membantu warga meningkatkan daya beli. Di sejumlah pasar, harga beras saat ini masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Untuk jenis membramo super harganya pada pekan ini masih sama dengan pekan lalu, Rp8.000 per kilogram, membramo biasa Rp7.600 /kg, IR 64 kualitas bagus Rp7.400 /kg dan kualitas II Rp7.100 /kg. Bulog Subdivre V Kediri juga mendapat kiriman beras impor sebanyak 10 ribu ton dari total 89 ribu ton yang diimpor pemerintah. Beras yang berasal dari Vietnam dan Thailand itu sengaja disimpan sebagai beras cadangan pemerintah. Namun, untuk realisasinya, rencananya akan dikirim ke luar Jatim, seperti Indonesia bagian timur maupun barat, seperti daerah Jawa Tengah. Tentang laju inflasi di Kediri pada Agustus 2011 ini, Arief menyebut terjadi inflasi hingga 0,73 persen dengan IHK (Indeks Harga Konsumen) sebesar 126,66. Inflasi pada Agustus 2011 ini lebih rendah bila dibandingan dengan dua bulan sebelumnya, dimana inflasi Juli mencapai 0,91 persen dan pada Juni mencapai 0,81 persen. Pada Juni dan Juli semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Pada Agustus ini, dari tujuh kelompok pengeluaran, satu kelompok mengalami deflasi yaitu bahan makanan dan enam lainnya mengalami inflasi. Kelompok-kelompok itu di antaranya makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 1,77 persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,27 persen, sandang 3,54 persen, kesehatan 0,80 persen, pendidikan, rekreasi, dan olahraga 2,31 persen, serta kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,46 persen. Namun, Arief menyebut, kelompok pengeluaran sandang mengalami inflasi tertinggi (3,54 persen) sebagai akibat adanya kenaikan harga komoditas emas perhiasan sebesar 11,9641 persen dengan andil inflasi sebesar 0,1471 persen. "Harga emas dunia naik, jadi masyarakat banyak investasi pada emas," katanya mengungkapkan. Pihaknya belum mengetahui dengan pasti, tingkat inflasi pada September ini. Saat ini, pihaknya masih melakukan pemantauan pada berbagai kelompok yang menjadi penyumbang laju inflasi. Walaupun pada Agustus, di Kediri laju inflasi mencapai 0,73 persen, masih lebih rendah daripada enam kota lainnya, seperti Sumenep yang inflasinya mencapai 0,99 persen dan Surabaya 1.08 persen.


Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026