Jakarta - Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP), KH Hasyim Muzadi, mengingatkan masyarakat Ambon agar tidak kembali terperosok dalam tragedi konflik yang sama yang terjadi beberapa tahun lalu.
"Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat Ambon dan Maluku agar tidak terjebak dalam tragedi lubang konflik yang sama dua kali," katanya di Jakarta, Selasa.
Kalau konflik berjalan dua kali dalam lubang yang sama, katanya, alangkah naifnya umat Islam dan umat Kristen sebagai Bangsa Indonesia.
Ia mengingatkan tragedi terdahulu dipicu dari masalah sepele yang kemudian merembet ke mana-mana, sekarang pun kembali peristiwa sepele hendak dijadikan pemicu untuk mengulang tragedi yang sama.
"Akar masalah sesungguhnya bukanlah murni pertikaian agama, namun separatisme yang kadang masih terselubung kadang terang-terangan," kata Hasyim yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.
Ia mengemukakan, separatisme RMS memerlukan konflik lokal yang diatur secara nasional bahkan internasional.
"Cara yang paling murah adalah menciptakan konflik agama yang dipercepat dengan faktor kemiskinan rakyat, daripada menggunakan isu yang lain yang lambat dan mahal," katanya.
Isu konflik agama, katanya, tidak hanya digunakan di Indonesia , tapi juga di Timur Tengah, Asia Tenggara, dan sebagian Eropa Timur.
Oleh karenanya, katanya, umat Islam jangan sampai terpancing memberikan ruang kepada separatisme itu.
"Karena kalau separatisme berhasil, umat Islam justru
dihancurkan," kata Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) tersebut.
Umat Kristen pun, katanya, tetap harus waspada karena separatisme bukan ajaran agama Kristen, namun gerakan politik transnasional yang akan menghancurkan NKRI melalui isu agama.
Seandainya benar ada orang Islam yang terbunuh, katanya, cukup diproses hukum kriminal, apalagi andaikan isu tersebut tidak benar.
"Tinggal kesiapan aparat bagaimana. Kalau aparat lalai sama artinya mendorong separatisme atau memberi keuntungan untuk 'bisnis bencana'," katanya. ***6***
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.