Bagi yang belum mengenal, nama “bonko mentuk” pasti aneh di telinga. Makanya, pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang agaknya tepat untuk para penggemar kuliner yang belum pernah mencoba jenis jajanan satu ini.
Makanan yang dibungkus dengan daun pisang ini mempunyai rasa gurih, karena ada unsur santan yang membalut adonan tepung berisi daging sapi cincang yang berbumbu merica dan pala.
Sepintas orang melihat bentuk kemasan luarnya memang hampir sama dengan masakan botok tahu tempe atau daun singkong, yakni dengan menggunakan daun pisang yang diberi “sabuk” pengikat untuk memperkuat bungkus agar isinya tidak bocor. Namun ukuran pembungkus kue mentuk, biasa orang menyebutnya untuk kue tradisonal tersebut, lebih besar dibanding bungkus lauk botok tahu tempe.
Sehingga bisa ditebak bahwa botok berbugkus daun yang ukurannya agak besar itu adalah jenis bongko mentuk, tapi jangan salah ada juga yang bungkusnya sama tapi isinya pisang, ya… namanya bonko pisang, yang adonan tepungnya berwarna hijau dan diberi isi pisang yang mempunyai rasa manis karena dicampur gula merah, dan adaonannya tetap menggunakan santan untuk membuat kue itu memiki rasa gurih dan wangi aroma pandan hijau.
Menurut Ny. Menik, salah seorang pedagang makanan tradisonal di kawasan Kampung Ampel, cara membuat adonan tepung bonko mentuk memang sedkit rumit, tapi justru itu yang membuat rasa kue tersebuut enak dan banyak disuka.
Ia menuturkan, untuk membuat kue tersebut ia harus mengaduk tepung trigu, santan kental dan telur ayam sampai rata dan halus. Dalam adonan itu ditambahkan sedikit garam. Setelah rata adonan tersebut baru dicetak dalam loyang dadar diameter 20 centimenter.
“Ya...kulit dadar terbuat dari adonan tepung itu tadi harus dicetak satu persatu di atas loyang yang sudah diolesi margarine. Setelah kulit dadar itu matang baru diisi daging sapi cincang yang telah dimasak tumis dengan bumbu brambang, bawang putih, merica, garam dan gula,” ujar Ny. Menik yang mempekerjakan sedikitnya lima orang itu.
Sesudah semua daging di masukkan ke dalam kulit dadar dan digulung satu persatu, kemudian di letakkan di atas daun pisang untuk dibungkus dan diikat dengan biting, namun sebelumnya harus dilumuri santan kental (kanil) yang sudah dimasak dengan campuran sedikit tepung dan garam, katanya.
“Nah…kalau semua bahan sudah terbungkus rapi, maka dikukus dalam dandang sekitar sepuluh menit,” kata Ny Menik yang menjual bongko mentuk itu hanya seharga Rp4.000 per bungkus.
Setelah bongko mentuk itu matang…ya bisa dinikmati makanan khas Surabaya yang cocok disajikan saat takjil buka puasa itu. "Hmmmm….pasti nggak puas kalau hanya makan satu bungkus," ujarnya.
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.