Trenggalek - Sejumlah nelayan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Senin, berunjuk rasa di depan kantor Satuan Polisi Air dan Udara (Polairud) setempat, guna memrotes rusaknya jaring "slerek" mereka akibat tertabrak tongkang batubara, Kamis (4/8).
Beberapa nelayan yang jaringnya rusak tertabrak kapal mengaku merugi puluhan juta rupiah. Pasalnya, jaring, pelampung, tali serta raes yang sedianya digunakan menangkap ikan maupun ubur-ubur rusak total. Kerugian riil ditaksir mencapai lebih dari Rp60 juta.
"Kami sempat berharap segera mendapat konfirmasi dari pihak nahkoda kapal (tongkang) sebagai bentuk pertanggungjawaban, tapi nyatanya sampai saat ini tidak ada yang mau bertanggung jawab," kata Aris, salah seorang nelayan yang juga pemilik kapal.
Selain itu, para nelayan mengaku juga merugi secara ekonomi. Sebab, sejak jaring mereka rusak diterjang tongkang, para nelayan ini praktis tidak bisa melaut karena peralatan tidak ada.
Karena tak kunjung ada yang bertanggung jawab, para nelayan akhirnya nekat mendatangi markas polairut setempat yang ada di kompleks Pelabuhan Perairan Nusantara (PPN) Prigi.
Mereka berharap pihak kepolisian bisa mengusut kasus tersebut, dan menghadirkan pemilik/nahkoda kapal tongkang agar mempertanggungjawabkan pelanggaran yang dilakukannya.
"Kami ingin segera ada kejelasan nasib jaring slerek kami yang rusak. Polisi harus membantu menyelesaikan ini karena sejak kejadian, beberapa nelayan sebenarnya sudah melapor ke polairud," tutur Edi Hermanto (34), nelayan lain asal Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo.
Dikonfirmasi terpisah, Kasat Polairud Prigi, Kabupaten Trenggalek, Iptu M Ali Mudhakir mengatakan, saat ini pihaknya sudah melakukan upaya komunikasi dengan pihak pemilik kapal, PT Samudera Sukses Makmur.
Hasilnya, perusahaan bersangkutan langsung merespon dan meminta pihak polairud untuk mengindentifikasi seluruh kerusakan jaring yang ada. "Kami sudah fasilitasi dengan menghubungi PT Samudera Sukses Makmur," terangnya.
Untuk itu, lanjut Ali Mudhakir, pihaknya segera berangkat ke Surabaya atau bahkan Jakarta untuk bertemu langsung dengan PT Samudera Sukses Makmur. "Kami usahakan semaksimal mungkin nelayan segera mendapat ganti-rugi," tandas Ali Mudhakir.
Setelah melakukan pertemuan sekitar satu jam lamanya, akhirnya puluhan nelayan dengan tertib meninggalkan markas Polairud Prigi.
Insiden rusaknya jaring slerek milik sejumlah nelayan terjadi sekitar lima hari lalu, Kamis (4/8). Saat itu, puluhan nelayan sedang melaut untuk berburu ubur-ubur di area lepas pantai, sekitar lima mil dari PPN Prigi.
Namun naas, saat jaring baru saja ditebar, tiba-tiba kapal pengangkut batu-bara yang hendak melanjutkan perjalanan/berlayar menuju PLTU Sudimoro, Pacitan keluar dari area labuh jangkar di area PPN Prigi.
Akibatnya, kapal tongkang berisi penuh muatan batubara itu menabrak jaring slerek yang terlanjur ditebar nelayan hingga hancur.
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.