Surabaya - PT Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS) mengimbau seluruh importir segera mengeluarkan sejumlah peti kemas untuk menghindari terjadinya penumpukan kontainer di Pelabuhan Tanjung Perak. "Kini keterisian kontainer 'Yield Occupancy Rate' (YOR) di lapangan penumpukan barang impor kami mencapai antara 80-84 persen atau belum padat. Apalagi, kami pernah mengalami kepadatan tertinggi hingga 120 persen pada tahun 2008," kata Humas TPS, Wara Dijatmika, di Surabaya, Selasa. Akan tetapi, ungkap dia, pada rentang waktu "H-7" hingga "H+7" pencapaian "YOR" impor diperkirakan meningkat signifikan menyusul semakin banyaknya kapal pengirim kontainer yang berdatangan. "Selama Agustus 2011, kami catat ada sebanyak 91 kunjungan kapal internasional, sedangkan kapal domestik hanya ada lima kunjungan kapal," ujarnya. Besaran kunjungan kapal internasional, sesuai dengan fokus bisnis TPS, yakni melayani 85 persen bongkar muat kontainer internasional dan sisanya pelanggan domestik. Terkait semakin padatnya arus bongkar muat di lapangan penumpukan impor, ia mengatakan, hal itu telah terjadi sejak April 2011 karena banyaknya perusahaan melakukan impor bahan baku industri. "Khusus tren lebaran, biasanya kinerja bongkar muat impor meningkat terutama komoditas bahan makanan," katanya. Penyebab kepadatan antara lain perilaku importir yang belum mengurus surat persetujuan pengeluaran barang (SPPB) dan sudah mempunyai SPPB tetapi belum bongkar. "Tapi, dari pengamatan kami selama ini mayoritas belum melakukan bongkar muat kontainernya meskipun telah mengantongi SPPB," kata Wara. Untuk kinerja bongkar muat kontainer impor di lapangan penumpukannya, lanjut dia, rata - rata per bulan selama 2011 meningkat menjadi 45.729 Teu's dibandingkan tahun lalu mencapai 40.026 Teu's.


Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026