Pacitan - Pemerintah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, "tutup mata" atas kerusakan ataupun tidak berfungsinya sejumlah sarana dan prasarana pendukung kawasan Monumen Panglima Besar Jendral Sudirman di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan.
"Terus-terang kami tidak bisa melakukan apa-apa. Sebab, status pengelolaannya sendiri belum jelas, sementara penanganan proyeknya dikendalikan langsung dari (pemerintah) pusat," kata Kabid Fisik dan Prasarana pada Badan Perencanaan Daerah dan Penanaman Modal (Bappeda-PM) Kabupaten Pacitan, Hariyadi, Selasa.
Menurut dia, sejumlah kerusakan yang terjadi seperti mengelupasnya cat pada beberapa bagian relief serta ambrolnya plengsengan pada jalan masuk menuju kawasan monumen tergolong cukup parah. Apalagi panjang bagian yang ambrol mencapai sekitar tujuh meter lebih.
Meski secara keseluruhan kawasan monumen masih dalam kondisi baik, beberapa kerusakan tersebut sebenarnya perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Apalagi, pembangunan monumen baru saja kelar dan belum diserahterimakan ke daerah.
Ia menduga terkelupasnya cat pada relief lebih karena faktor cuaca. Sebab, di wilayah sekitar lokasi monumen memang dikenal berhawa lembab.
"Tim dari Ditjen Cipta Karya Kementerian PU (Pekerjaan Umum) sudah membentuk tim survei dan diharapkan tahun ini pula dilakukan perbaikan," ujarnya.
Pihak Bappeda dan Penanaman Modal juga mencatat prasarana air bersih di lingkungan monumen juga belum bisa difungsikan. Padahal, saat awal peresmian tahap pertama pembangunan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), akhir 2008 lalu, peralatan masih berfungsi baik.
Hariyadi menduga, selain faktor teknis, masalah kejelasan pengelolaan kembali menjadi kendala. Kondisi ini menyebabkan tidak ada pihak yang bertanggung jawab langsung ketika terjadi kerusakan pada pompa maupun saluran air di kawasan museum.
"Dari dua pompa yang ada, satu di antaranya tidak digunakan karena pengelolaannya juga belum jelas. Takutnya nanti malah menyinggung keluarga selaku pemilik yayasan. Tapi kedua peralatan masih berfungsi kok," kata Hariyadi, menambahkan.
Pemkab Pacitan sendiri tahun ini hanya melaksanakan proyek perbaikan jalan di sekitar wilayah monumen. Tapi tidak termasuk di dalam komplek. Jalan tersebut merupakan sarana penghubung antardesa dengan panjang sekitar empat kilometer dengan alokasi anggaran Rp100 juta.
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.