Pasuruan - Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengatakan, banyak sumber mata air di Jatim yang mati akibat banyak hutan yang rusak. "Idealnya, luas hutan di Provinsi Jawa Timur harus mencapai 33 persen dari seluruh wilayah," katanya pada puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Internasional di Kebun Raya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin. Namun, realitanya lahan hutan di Jawa Timur kini hanya tinggal 28 persen dan sebesar enam persen di antaranya dalam kondisi rusak. Rincinya, 300 hektare hutan dalam kondisi rusak dan sekitar sejuta hektare masih terdapat tegakan hijauan. Namun, lanjut gubenur, jika hutan di Jawa Timur dulu masih terdapat harimau, kijang, dan merak, maka kini satwa-satwa tersebut sudah mulai sulit dijumpai. "Dengan banyaknya hutan yang rusak, maka banyak pula sumber mata air yang mati. Di DAS Brantas, semula terdapat 118 sumber mata air, tapi kini tinggal 57 sumber mata air saja," katanya. Bahkan, sumber mata air yang tersisa tersebut, jika memasuki kemarau banyak yang mengering, atau hanya tinggal satu hingga dua sumber mata air yang masih mengucurkan air. Untuk itu, Gubernur meminta seluruh lapisan masyarakat di Jawa Timur untuk ikut serta membenahinya. Langkah Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Oktober mendatang akan mengangkat tenaga relawan lingkungan di tingkat kecamatan. Gubernur juga mengungkapkan, masalah lingkungan kini juga menjadi salah satu dari empat indikator keberhasilan pembangunan suatu daerah, selain keberhasilan peningkatan ekonomi, penurunan jumlah kemiskinan, dan pengurangan pengangguran. Disebutkan, pembangunan lingkungan hidup di Jawa Timur ditandai dengan kegiatan penghijauan yang cukup signifikan. Dari target penanaman pohon sebanyak 40 juta pohon, terealisasi sebanyak 180 juta pohon, dengan tingkat kehidupan tanaman berkisar antara 72 sampai 74 persen. Puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur yang dipusatkan di Kebun Raya Purwodadi Pasuruan diwarnai dengan kegiatan Kemah Hijau mulai 15 hingga 18 Juli, pameran, dan pemberian penghargaan kepada perorangan maupun kelompok yang telah berhasil melestarikan lingkungan.


Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026