Lampung - Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan bahwa Pondok Pesantren (Ponpes) Umar bin Khattab di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan lembaga pendidikan agama seperti ponpes, tetapi lebih tepat disebut pusat penggemblengan radikalisme. "Itu bukan Ponpes, tapi tempat pengemblengan para radikalisme," kata Menag Suryadharma Ali dalam perjalanan ke Lampung, Jumat, dalam rangka menghadiri Kongres Muslimat Nahdlatul Ulama ke-16. Ia menyatakan, Ponpes Umar bin Khattab tak memenuhi syarat atau pun kriteria sebagai Ponpes karena untuk dapat disebut sebagai Ponpes haruslah memenuhi kriteria sebagaimana yang berlaku umum pada sejumlah Ponpes lainnya. Menurut Menag, kriteria itu antara lain memiliki ulama atau kiai yang memahami ilmu Islam secara mendalam dan lembaga itu secara kultural harus terbuka dengan masyarakat sekitar dan membawa manfaat secara ekonomi. Kenyataan yang ada, kata dia, Ponpes yang didirikan 10 tahun lalu itu hanya memiliki 35 orang murid anak kecil dan 14 dewasa. Dari situ Menag menilai bahwa lembaga pendidikan yang mengklaim sebagai Ponpes tak punya interaksi dengan masyarakat sekitar dan tak terbuka kepada publik. "Jadi, tak salah jika ada yang berkesimpulan bahwa tempat tersebut lebih tepat dikatakan sebagai tempat penggemblengan radikalisme," katanya. Pendapat serupa juga dikemukakan Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar yang ikut mendampingi kunjungan kerja Menag ke Lampung. Kata Nasaruddin, warga sekitar Ponpes Umar bin Khattab semula mengira benar-benar tempat pendidikan bagi umat Islam. Ia menjelaskan, dari kalangan Ormas seperti Nahdlatul Ulama yang mengetahui kehadiran Ponpes di Bima tersebut mengira berada di bawah Ormas Muhammadiyah. Sebaliknya juga dari kalangan Ormas Muhammadiyah punya penilaian serupa lantaran tampilan santri Umar bin Khattab beda dengan kebanyakan santri dari Ponpes yang bernaung pada Ormas Islam. Menilai lembaga pendidikan berciri Ponpes, menurut Dirjen Bimas Islam, bisa dilihat dari kehadiran kiainya. Selain itu, apakah Ponpes yang bersangkutan memiliki masjid sebagai sarana shalat berjamaah. Selain itu, ulamanya pun mahir atau mendalami kitab kuning sebagai warisan ulama terdahulu. Jika melihat kenyataan yang ada di Bima, Ponpes Umar bin Khattab itu memang jauh dari kebanyakan Ponpes di berbagai daerah Indonesia. Karenanya, Nasaruddin sependapat dengan Menag bahwa Ponpes Umar bin Khattab lebih tepat disebut pusat penggemblengan radikalisme.


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026