Surabaya - Kudapan cokelat sering menjadi favorit seluruh lapisan masyarakat di segala rentang usia sehingga layak ditasbihkan sebagai kuliner sepanjang masa.
Bahkan, cokelat yang dihadirkan dengan berbagai cita rasa tersebut bisa menggugah hasrat penggemarnya untuk terus menikmati tanpa henti sampai membuat mereka seolah ketagihan.
Kini, olahan cokelatpun bisa dipadupadankan dengan beragam bahan lain seperti kacang dan kismis. Jenis kacangnya meliputi mete, "almond" dan "macadamia".
"Untuk membuat cokelat, hidangan tersebut bisa memakai cokelat 'praline' murni berupa 'dark chocolate', 'white chocolate', dan 'milk chocolate'," kata "Pastry Chef Endar Hotel JW Marriott" Surabaya, Yudah Setiawan.
Mengenai mitos berjerawat pascamenyantap cokelat, ia mengaku, pernyataan tersebut hanya isapan jempol. Apalagi, saat ini sudah ada jenis "diet chocolate" yang rendah lemak.
"Untuk itu, makan cokelat berapapun dan kapanpun silakan 'enjoy' saja," ucapnya.
Ketika ditanya tentang tips mengolah cokelat, ia mengemukakan, tiap tahap pembuatannya memang tak bisa sembarangan. Salah satunya, memperhatikan suhu udara.
"Contoh, saat mencetaknya cukup pada suhu 33 derajat Celcius. Lalu, setelah jadi cokelat harus disimpan dalam suhu yang sejuk sekitar 20 derajat Celcius. Kalau tidak, cokelat bisa melumer," paparnya.
Terkait ketahanan olahan sajian cokelat, ia optimistis, awet hingga satu bulan. Namun syaratnya wajib diracik dengan baik dan disimpan di "chiller" lemari es. Saat akan dinikmati, pencinta cokelat perlu mengeluarkannya selama satu jam.
"Kemudian, penikmat cokelat harus menghabiskannya saat itu juga. Jika dimasukkan lagi, makanan itu 'berkeringat' dan memicu jamur," ungkapnya.
Saat ini, lanjut dia, ada sekitar 30 jenis kudapan dari cokelat. Dari jumlah tersebut, hanya lima macam yang paling disukai konsumen antara lain cokelat "truffle" yang ditaburi bubuk cokelat, cokelat "pistachio" yang dipadu kacang "pistachio", coklat "cashew nut", "almond roche" yang dipadu kacang "almond, dan "caramelezed walnut".
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.