Salah satunya seperti yang dilakukan oleh UPT Puskesmas Kedundung, Kota Mojokerto, yang melakukan inovasi tersebut guna mencegah penderita stunting.
"Kami memiliki inovasi untuk mengintegrasikan upaya penyelesaian stunting dan TBC ke dalam satu program. Jadi biar sekali jalan, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui,” ujar Kepala Puskesmas drg Heti Nira Purnaningsih dalam keterangan pers di Mojokerto, Selasa.
Ia mengatakan program tersebut perlu dilakukan mengingat keduanya merupakan persoalan yang memiliki urgensi tinggi di Indonesia.
Ia mengatakan meskipun angka stunting di Kota Mojokerto paling rendah di Jawa Timur, secara nasional masih cukup tinggi.
Oleh karena itu, Pemkot Mojokerto tetap konsisten untuk turut berupaya menurunkan angka tersebut. Demikian pula dengan kasus TBC di Indonesia yang terbilang tinggi, yakni nomor tiga setelah India dan China.
"Jadi ini bukan serta-merta menyelesaikan masalah di daerah tapi ini juga bentuk komitmen mendukung program prioritas nasional," katanya.
Ia mengatakan program Pasupati meliputi berbagai rangkaian kegiatan. Sebelumnya sudah diadakan "roadshow" skrining stunting dan TB serta tes Mantoux atau Tuberculin Skin Test (TST) kepada para balita di wilayah kerja Puskesmas Kedundung.
Pada acara puncak yang digelar di Posyandu Sekar Putih RW 01, Kedundung, selain skrining, juga diadakan sosialisasi bertajuk “Anak Sehat dan Ceria dengan Gizi Seimbang” yang menghadirkan dr Vita Dwi, SpA sebagai narasumber.
“Perjalanan kita masih panjang untuk bisa menuntaskan semuanya. Masih banyak PR (Pekerjaan Rumah) yang harus kita kerjakan bersama untuk menyelesaikan masalah ini,” kata Heti
Pewarta: Indra SetiawanEditor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.