Jakarta (ANTARA) - Hampir tidak ada satu pun jejak historis dari heroisme Arek-Arek Surabaya dalam melawan Sekutu, baik untuk menyiarkan maupun mempertahankan proklamasi kemerdekaan, yang luput dari kesaksian pewarta Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Biro Surabaya.

Kesaksian berbasis data yang disuarakan para jurnalis ke publik tersebut antara lain penyebarluasan naskah Proklamasi Kemerdekaan 1945. Apalagi saat itu hanya ada dua media massa di Indonesia, yakni Asia Raya di Jakarta dan Soeara Asia di Surabaya, yang keduanya juga merupakan mitra Kantor Berita ANTARA.

Momentum memproklamasikan kemerdekaan menjadi kesempatan emas setelah tersiar kabar bahwa Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Sekutu. Kabar itu menandai berakhirnya Perang Dunia II yang berlangsung sejak 1939, setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada 15 Agustus 1945. Ini adalah momentum berharga sebelum bangsa Eropa datang kembali untuk menjajah.

Awalnya, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat selaku perwakilan PPKI menemui Panglima Tertinggi Tentara Jepang di Asia Tenggara, Hisaichi Terauchi, di Dalat, Saigon. Mereka mengusulkan proklamasi digelar pada 25 Agustus 1945 dan petinggi Jepang itu pasrah. Namun, pelaksanaan proklamasi akhirnya dipercepat setelah kepastian menyerahnya Jepang pada 15 Agustus 1945 tersebar.

Buku Catatan Politik Pengalaman Wartawan ANTARA (Ismet Rauf dan Saleh Danny Adam, 2002) mencatat bahwa rencana penyebarluasan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia dipimpin oleh Adam Malik (pendiri LKBN ANTARA). Ia mendiktekan naskah dari tempat persembunyian karena sedang dikejar-kejar tentara Jepang.

Adam Malik Batubara adalah wartawan berusia 28 tahun saat kemerdekaan, yang menjadi “corong” pertama penyebaran berita kemerdekaan Indonesia setelah teks proklamasi dibacakan Soekarno. Wakil Presiden ke-3 RI itu mengawali kiprahnya di usia muda bermodalkan nekat dan koneksi jurnalistik, yang dimulai dari kerja “gerilya informasi” ala anak magang media yang berani mengambil risiko.

Adam Malik dibantu oleh Pangulu Lubis, satu-satunya orang ANTARA yang mendapat instruksi langsung: “Bersiap-siap menyiarkan sebuah berita penting.” Setelah teks dibacakan Soekarno, Adam Malik menelepon kantor ANTARA. Telepon itu diterima oleh Asa Bafaqih, yang kemudian diminta menyampaikan pesan kepada Pangulu Lubis: “Jangan sampai gagal.”

Pangulu Lubis lalu mengirimkan naskah ke bagian radio dengan menyelipkannya dalam morse-cast Domei di antara berita-berita yang telah dibubuhi stempel Hodohan (sensor). Markonis Soegirin menjaga agar teks proklamasi tersebut tetap tersiar, sementara Markonis Wua bertugas mengiriskannya. Dari sinilah berita Proklamasi Indonesia menyebar luas ke berbagai daerah hingga dunia internasional.

Kiprah wartawan Kantor Berita ANTARA di seputar proklamasi sebenarnya telah dimulai pada 10 Agustus 1945, atau sehari setelah bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki dan menewaskan 70.000 orang.

Pada tanggal tersebut, dua pembesar Jepang bersama Mochtar Loebis (yang kemudian masuk ANTARA pada awal 1946) mendatangi ruang kerja Waidan Barnabas Palenewen (masuk ANTARA/Domei pada 1942) selaku Kepala Bagian Radio Kantor Berita Domei.

Mereka meminta empat markonis ditugaskan di tempat pemantauan berita tentara Jepang, dengan catatan tidak boleh pulang (berdasarkan catatan mantan Redaktur LKBN ANTARA Pusat, Boyke Soekapdjo, 27 Juli 2026).

Selain Adam Malik, Pangulu Lubis, Mochtar Loebis, dan jajaran awak ANTARA lainnya, ada pula wartawan Domei bernama B.M. Diah. Ia berjasa menyelamatkan naskah asli proklamasi tulisan tangan Soekarno yang nyaris terbuang ke tempat sampah setelah diketik ulang oleh Sayuti Melik. Naskah bersejarah itu ia simpan rapat-rapat selama 40 tahun sebelum akhirnya diserahkan kepada pemerintah.

Wartawan lain di balik peristiwa penting ini adalah Muhammad Yusuf Ronodipuro, yang menyiarkan kabar kemerdekaan melalui radio di tengah penjagaan ketat tentara Jepang. Sebagai bagian dari kelompok pergerakan pemuda Asrama Menteng 31 Jakarta, Yusuf Ronodipuro mempertaruhkan nyawanya demi memastikan berita kemerdekaan sampai ke telinga rakyat lewat siaran radio ilegal.


ANTARA Surabaya

Di Surabaya, naskah Proklamasi diterima oleh Kantor Berita (KB) Indonesia Cabang Surabaya (eks KB Domei) dalam bentuk kode morse dari KB Domei Pusat/Jakarta, hanya 15 menit setelah dideklarasikan oleh Soekarno-Hatta pada Jumat, 17 Agustus 1945. Berita tersebut diterima oleh markonis Jacob (masuk Domei Surabaya 1942) dan Soewardi pada pukul 11.44 WIB saat giliran kerja kedua.

Selanjutnya, Jacob menyalin kode morse tersebut ke dalam bahasa Latin dan meneruskannya ke Bagian Redaksi yang digawangi oleh R.M. Bintarti (masuk Domei Surabaya 1942/Perintis Pers Indonesia) serta Soetomo (Bung Tomo).

Pihak Hodohan (Dinas Sensor) KB Domei Cabang Surabaya sempat mengendus hal ini karena aturan mengharuskan setiap naskah disetorkan terlebih dahulu sebelum disiarkan. Untuk mengelabuhi sensor, R.M. Bintarti menerjemahkan naskah ke dalam bahasa Jawa. Setelah itu, Jacob secara diam-diam meneruskan naskah tersebut ke surat kabar sore Soeara Asia yang kantornya bersebelahan (sekarang Gedung PT Pelni di Jalan Pahlawan 112, Surabaya).

Sejak bergabung dengan KB Domei pada 1942, Jacob memang pernah mengikuti kursus bahasa Jepang sehingga ia juga ditugasi menyalin berita Soeara Asia ke dalam bahasa Jepang (Buku 100 Awak ANTARA oleh Boyke Soekapdjo, Penantara, Desember 2023).

Langkah berani Jacob membuat berita proklamasi berhasil tersiar pada Sabtu, 18 Agustus 1945, dan dicetak menjadi ribuan selebaran stensilan yang ditempelkan di mana-mana. Pemberitaan inilah yang akhirnya membuat jejak historis perjuangan Arek-Arek Surabaya terekam oleh jurnalis hingga kini. Wartawan Surabaya terbukti menjadi aktor penting di balik Proklamasi Kemerdekaan.

Pada masa perjuangan tersebut, KB Domei Cabang Surabaya dipimpin oleh Ohara (asal Jepang) dengan awak redaksi R.M. Bintarti, Bung Tomo, Soemadji Adji Wongsokoesoemo, Wiwiek Hidayat, dan Fakih. Para wartawan eks KB Domei Surabaya inilah yang kemudian merintis Kantor Berita Nasional (KNI) Cabang Surabaya di Jalan Tunjungan 100 pada 1 September 1945 (kini menjadi cagar budaya Monumen Pers Perjuangan Surabaya). KNI inilah yang kelak bertransformasi menjadi LKBN ANTARA Cabang Surabaya pasca-pelucutan senjata Jepang pada 1 Oktober 1945.

Selain penyiaran naskah proklamasi yang menggemakan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia—hingga disiarkan ulang oleh BBC London, ABC Australia, All India Radio, dan Voice of America (VoA)—gedung di Jalan Tunjungan 100 sendiri menyimpan sejarah yang amat kuat.

“Salah satu informasi yang paling berkesan di Tunjungan 100, seperti yang pernah diceritakan almarhum Wiwiek Hidayat, adalah kesempatan memberitakan peristiwa perobekan bendera merah-putih-biru Belanda di atas Gedung Hotel Orange (yang di zaman Jepang dinamai Hotel Yamato),” kata Yousri Nur Raja Agam, wartawan senior Jawa Timur.

Satu bulan setelah KNI terbentuk, tepatnya pada 19 September 1945, insiden perobekan bendera terjadi. Tiga wartawan Kantor Berita ANTARA menjadi saksi mata pertama perjuangan Arek-Arek Surabaya dalam merobek warna biru pada bendera Belanda di puncak Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit).

Ketiga jurnalis tersebut adalah Wiwiek Hidayat (pewarta teks), Abdoel Wahab Saleh (fotografer), dan Djohan Sjahroezah (salah satu pendiri ANTARA yang namanya sengaja disembunyikan karena menjadi “langganan” penjara Belanda pada 1930–1932).

“Saat itu, Pak Wiwiek sering melihat tingkah polah orang-orang Belanda di hotel yang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Semuanya terlihat jelas dari kantor ANTARA. Menurut Pak Wiwiek, orang yang merobek bendera adalah Kusno Wibowo dengan dibantu Onny Manuhutu serta dua orang lain. Dokumentasi fotonya masih tersimpan di ANTARA. Anehnya, belakangan banyak orang mengklaim sebagai pelaku perobekan, hingga akhirnya disepakati bahwa pelakunya adalah ‘Arek Suroboyo’ tanpa menyebut nama individu,” tutur Yousri menirukan ucapan Pak Wiwiek.

Pasca-Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, ANTARA bertahan hingga 22 November 1945. Namun, situasi memaksa LKBN ANTARA Cabang Surabaya untuk mengungsi. Mereka memboyong perangkat kerja dan alat komunikasi ke rumah Wiwiek Hidayat di Kampung Cakarayam, Kota Mojokerto. Markonis Jacob memilih tetap bertahan di Surabaya, sementara dua rekan markonisnya, Koesnindar dan Soetojo, gugur dalam masa pengungsian. Ini membuktikan bahwa wartawan kala itu juga merupakan seorang pejuang.

Setelah kondisi Surabaya relatif aman, kantor LKBN ANTARA kembali dan beroperasi dari rumah Wiwiek Hidayat di Jalan Raya Ketabang (sekarang Jalan Jaksa Agung Suprapto/Toeng Market). “Rumah di Ketabang itu digunakan hingga tahun 1960-an sebagai kantor LKBN ANTARA Surabaya,” ujar Syahrul Bachtiar Hidayat, putra almarhum Wiwiek Hidayat, kepada Yousri.

Setelah era 1960-an, ANTARA kembali menempati kantor di Jalan Pahlawan 114, lalu sempat berpindah ke Kompleks Kantor Gubernur Jatim di Jalan Pahlawan 110 hingga 1997. Pada periode 1997–2006, ANTARA berkantor di Jalan Raya Darmo Baru Barat 58, hingga akhirnya sejak 2006 memiliki kantor tetap di Jalan Kombes Pol M. Duryat 41 A/B, Surabaya.

Lokasi kantor ANTARA Jatim saat ini di Jalan Kombes Pol M. Duryat justru semakin dekat dengan jejak historisnya, yaitu Monumen Pers Perjuangan (eks Kantor KNI) di Jalan Tunjungan dan Radio Pemberontakan Bung Tomo di Jalan Mawar. Hal ini menjadi simbol bahwa ANTARA terus melanjutkan semangat perjuangannya hingga di era digital saat ini.



Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026