Mahasiswa Ubaya tampilkan ratusan rancangan di "Graduation Show 2019"

id Ubaya,Peragaan busana,rancangan busana mahasiswa,mahasiswa ubaya

Mahasiswa Ubaya tampilkan ratusan rancangan di

Salah satu rancangan busana karya mahasiswa Ubaya yang ditampilkan Graduation Show 2019 bertajuk "Disenthrall" di Surabaya, Sabtu (21/9/2019). (ANTARA Jatim/Willy Irawan)

Tahun ini kami mengusung tema Disenthrall yang memiliki arti pembebasan.
Surabaya (ANTARA) - Mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya atau disingkat Ubaya menampilkan ratusan busana rancangannya dalam acara Graduation Show 2019 bertajuk Disenthrall di Surabaya, Sabtu.

Penanggung jawab acara Graduation Show 2019 Prayogo Widyastoto Waluyo mengatakan pada acara tersebut menampilkan sebanyak 180 koleksi looks Fall Winter 2019 dan Spring Summer 2020 hasil rancangan 28 mahasiswa.

"Tahun ini kami mengusung tema Disenthrall yang memiliki arti pembebasan. Pembebasan berarti bebas bergaya, ekspresif dan dinamis," katanya.

Pada acara itu, setiap mahasiswa diwajibkan membuat lima rancangan busana dan 15 produk lifestyle mulai dari aksesories kepala hingga sepatu yang dikenakan. Desain pakaian yang dirancang oleh mahasiswa dibuat lebih youthful dengan target pasar untuk anak muda yang aktif dan energik.

Salah satu desainer, Nia Krisanti, membuat koleksi bernama Human Being. Karyanya didominasi warna putih yang terinspirasi dari penderita Oculocutaneous Albinism (Albino) yang mengalami kekurangan warna pigmen.

"Saya membuat karya ini untuk memanusiakan manusia. Melalui tema Flawful yang berarti tidak sempurna, cacat, dan memiliki kekurangan, akhirnya saya terinspirasi dari penderita Albino. Sebetulnya penderita Albino sama seperti manusia yang lain dan bebas bergaya, mereka memiliki perbedaan warna kulit yang unik. Itu yang membuat daya tarik tersendiri," kata dia.
 
Nia mengambil desain busana lengan panjang dan menggunakan material berbahan fleece yang cocok digunakan untuk musim dingin dan berangin.

Namun, desain ini dapat dipakai oleh masyarakat lokal karena dirancang dengan menyesuaikan iklim yang ada di Indonesia.

Selama proses perancangan desain selama satu setengah bulan, Nia memfokuskan pada warna dan bentuk iris mata penderita Oculocutaneous Albinism yang menjadi ciri khas motif koleksinya.

Sementara itu, Nancy Restiandini, menunjukkan koleksi miliknya berjudul Sentoki yang diambil dari bahasa Jepang berarti pejuang. Looks yang dia rancang terinspirasi dari para pemain bisbol Hokkaido di Jepang.

Dia mengaku kesulitan desain yang termasuk dalam tema The Games kategori Spring Summer 2020 itu pada pemilihan kain yang tidak ada di Indonesia serta teknik tali yang dibuat sendiri sehingga menjadi motif yang sesuai dengan tema dan tren fashion dunia.

"Keunikannya ada pada material bahan kain yang saya pesan langsung dari Cina dan desainnya saya buat agak menggelembung mirip seperti bola Baseball. Begitu juga aksesories tas yang digunakan. Busana ini mempunyai ciri khas desain pakaian yaitu menggunakan leather strap sehingga memberikan kesan lebih sporty," ujarnya.

Selain menampilkan karya tugas akhir mahasiswa, terdapat 40 desain karya lainnya dibuat oleh mahasiswa FIK Ubaya yang tergabung dalam mata kuliah Local Content Design Project dan Evening Gown Design Project.
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar