Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi, bergerak melemah sebesar 11 poin,  sedangkan  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)  dibuka melemah 121,09 poin.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi, bergerak melemah sebesar 11 poin menjadi Rp13.530 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.519 per dolar Amerika Serikat (AS).
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Selasa menambahkan bahwa dolar AS kembali terapresiasi terhadap rupiah seiring dengan respon positif pelaku pasar terhadap kenaikan data ekonomi Amerika Serikat, terutama tenaga kerja.
"Data ekonomi AS yang positif mendorong mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah kembali melemah," kata Reza.
Ia mengharapkan bahwa adanya optimisme pemerintah terhadap ekonomi nasional pada 2018 ini yang dapat tumbuh mencapai 5,4 persen dapat menahan depresiasi rupiah lebih dalam.
"Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution optimistis ekonomi nasional pada 2018 masih bisa tumbuh sesuai proyeksi yaitu 5,4 persen," katanya.
Sementara itu, ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail menambahkan bahwa dolar AS bergerak menguat terhadap beberapa mata uang kuat dunia lainya seiring antisipasi pelaku pasar terhadap tingkat suku bunga acuan The Fed akan naik lebih tinggi dari ekspektasi.
"Rupiah juga terpengaruh seiring kemungkinan naiknya 'capital outflow' dari pasar modal dalam negeri sebagai dampak kenaikan imbal hasil global," kata Ahmad Mikail.
IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa dibuka melemah 121,09 poin seiring dengan minim sentimen positif yang beredar.
IHSG BEI dibuka melemah 121,09 poin atau 1,84 persen menjadi 6.469,54, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 24,35 poin (2,20 persen) menjadi 1.082,64.
Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere, di Jakarta, Selasa, mengatakan bahwa produk domestik bruto (PDB) tahun 2017 yang tumbuh 5,07 persen dibandingkan 5,02 persen pada tahun sebelumnya tidak mampu menahan tekanan di bursa saham.
"Hal itu karena pertumbuhan PDB tahun 2017 di bawah target pemerintah sebesar 5,2 persen," katanya.
Meski demikian, lanjut dia, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada tahun 2018 dapat tercapai. Optimisme itu didukung oleh momen pilkada, Asian Games serta mempertahankan pertumbuhan investasi dan ekspor.
"Ditambah sentimen dari antisipasi laporan laba perusahaan, bisa menjadi katalis positif bagi IHSG," katanya lagi.
Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan bahwa pelemahan pada bursa saham eksternal kembali memberi sentimen negatif bagi bursa saham di dalam negeri.
"Pelemahan IHSG juga terpengaruh mata uang rupiah yang melemah, sehingga investor kembali melakukan aksi jual," katanya.
Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei turun 1.197,52 poin (5,31 persen) ke 21.477,56, indeks Hang Seng melemah 1.177,98 poin (3,65 persen) ke 31.067,24 dan Straits Times melemah 95,73 poin (2,75 persen) ke posisi 3.386,90. (*)


Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026