Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis pagi, bergerak menguat sebesar 23 poin, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat sebesar 8,01 poin.  

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis pagi, bergerak menguat sebesar 23 poin menjadi Rp13.452 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.475 per dolar Amerika Serikat (AS). 

"Nilai tukar rupiah mengalami kenaikan terhadap dolar AS. Adanya lelang obligasi SUN di awal tahun ini menjadi salah satu faktornya," kata Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Kamis. 

Ia mengatakan bahwa lelang obligasi surat utang negara (SUN) membuat permintaan terhadap rupiah mengalami kenaikan, yang akhirnya mendorong apresiasi rupiah di pasar valas domestik. 

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menyampaikan pemerintah menyerap dana Rp25,5 triliun dari lelang lima seri SUN pada awal tahun 2018 untuk memenuhi sebagian pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016 dengan total penawaran mencapai Rp86,2 triliun. 

Di sisi lain, lanjut Reza, data inflasi Indonesia di sepanjang 2017 yang dianggap stabil juga masih menjadi salah satu faktor yang menopang mata uang domestik. 

"Inflasi yang stabil diharapkan dapat terus terjaga sehingga memberikan sentimen positif pada rupiah ke depannya," katanya. 

Analis Monex Investindo Futures, Faisyal menambahkan apresiasi rupiah relatif terbatas menyusul hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dapat membuka ruang dolar AS untuk menguat. 

"Sebagian besar anggota The Fed masih memperkirakan target inflasi Amerika Serikat 2 persen akan tercapai," katanya.  

IHSG Menguat 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis dibuka menguat sebesar 8,01 poin seiring aksi beli investor. 

IHSG BEI dibuka menguat 8,01 poin atau 0,08 persen menjadi 6.258,85. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 1,06 poin (0,10 persen) menjadi 1.057,58. 

"Koreksi tajam IHSG pada hari kemarin (3/1), membuka peluang bagi investor melakukan akumulasi dan mendorong IHSG menguat meski terbatas," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Kamis. 

Ia menambahkan bahwa data ekonomi dari dalam negeri yang relatif masih positif, menjadi salah satu faktor yang menjaga pergerakan IHSG. Tercatat, realisasi belanja negara 2017 mencapai Rp2.001,6 triliun atau mencapai 93,8 persen dari target APBNP 2017, tumbuh 7,2 persen dibanding tahun lalu. 

Dari eksternal, lanjut dia, sentimennya juga cukup positif. Sejumlah bursa saham di kawasan Asia cenderung menguat seiring dengan optimisme membaiknya perekonomian dunia setelah indikator aktivitas manufaktur di Tiongkok dan India menunjukkan kenaikan. 

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menambahkan bahwa investor asing yang mulai melakukan aksi beli dapat mendorong IHSG untuk bergerak di area positif. 

"Aksi beli investor asing dapat menjaga fluktuasi IHSG," katanya. 

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng menguat 30,51 poin (0,10 persen) ke 30.591,46, indeks bursa Nikkei naik 549,84 poin (2,42 persen) ke 23.310,68, dan Straits Times menguat 3,47 poin (0,12 persen) ke posisi 3.468,78. (*)



Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026