London, (Antara/Reuters) - Ada beberapa hal dalam tenis yang lebih memalukan daripada dikalahkan di putaran pertama turnamen grand slam sementara menduduki peringkat satu dunia.

Ingatan menyakitkan yang masih segar di benak petenis putri Jerman Angelique Kerber, yang telah mengalami kemalangan di Prancis Terbuka lima pekan lalu.

Ini adalah takdir yang hanya menimpa dua wanita di Wimbledon dalam era profesional - sesama Jerman Steffi Graf pada tahun 1994 serta Martina Hingis pada tahun 1999 dan 2001.

Mungkin itulah gambaran menyedihkan dari Kerber saat dia memulai pertandingan di Wimbledon, banyak pakar khawatir dia akan mendapatkan kemalangan ganda tersingkir dari putaran pertama Paris-London pada hari Selasa (4/7) atau sehari ketika dia diberi kehormatan untuk membuka prosesi di lapangan tengah karena absennya sang juara bertahan Serena Williams.

Beruntung bagi Kerber, dia membuktikan bahwa prediksi tersebut salah dengan kemenangan 6-4, 6-4 atas petenis kualifikasi asal AS Irina Falconi.

Namun, cara dia menang melawan lawan yang belum pernah memenangkan pertandingan di Wimbledon dalam empat kunjungan sebelumnya dan berada di peringkat ke 247, tidak akan berbuat banyak untuk mengatasi keyakinan bahwa Kerber tidak mungkin mengulang perjalanan spektakulernya 2016 saat dia finis sebagai runner-up.

"Bermain putaran pertama di grand slam selalu sulit, terutama dengan kenangan pertandingan putaran pertama saya di Paris," kata Kerber kepada wartawan setelah mendaftarkan kemenangan pertamanya di turnamen grand slam sejak tertunduk di putaran keempat Australia Terbuka pada Januari.

"Saya sebenarnya hanya berpikir poin ke poin, mencoba menemukan irama saya sepanjang pertandingan," ujar petenis Jerman yang menghasilkan 13 kesalahan sendiri dan hanya mendapatkan delapan dalam set pembukaan melawan Falconi.

Semusim setelah memanaskan dunia tenis dengan memenangkan dua gelar grand slam dan menjadi runner-up Serena Williams di All England Club, petenis berusia 29 tahun itu mengakui bahwa menjalani di posisi puncak bukanlah perjalanan yang mudah.

"Ada lebih banyak harapan, lebih banyak tekanan, dari saya, dari luar, dari segalanya," kata Kerber, yang berperingkat nomor satu dunia dalam sambungan telepon di sela dua pekan gelaran Wimbledon.

"Lebih mudah menuju ke sana daripada berada di sana," ujarnya.

Begitulah cobaan dan kesengsaraan Kerber tahun ini yang hanya mencapai satu partai final jika dibandingkan dengan delapan pemimpin tur WTA pada tahun 2016 lalu, dan jika satu langkah saja salah di Wimbledon ini, duo kompetitornya Karolina Pliskova atau Simona Halep bisa menjauhkannya dari posisi teratas.(*)

Pewarta: Supervisor
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026