Jakarta, (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar-bank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak menguat sebesar 65 poin sedangkan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, dibuka menguat sebesar 11,33 poin
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar-bank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak menguat sebesar 65 poin menjadi Rp13.295, dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.360 per dolar AS.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Kamis mengatakan bahwa dolar AS mengalami tekanan terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah. Penurunan dolar AS itu sebagian juga disebabkan oleh faktor teknikal setelah beberapa hari ini mata uang AS berada dalam tren penguatan.
"Penguatan rupiah kembali hari ini (26/1) setelah anjloknya dolar AS di pasar global," katanya.
Namun, ia menambahkan bahwa pergerakan rupiah masih dibayangi inflasi pada 2017. Pemerintah dan Bank Indonesia menyiapkan langkah untuk menekan inflasi, pertanda kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi pada tahun ini.
Ia mengemukakan bahwa Bank Indonesia memperkirakan inflasi bisa naik ke atas level 4 persen secara tahunan pada 2017. Inflasi yang naik lebih cepat dari inflasi rekan dagang Indonesia, bisa menyebabkan tekanan depresiasi rupiah di masa depan.
Sementara itu, Analis Binaartha Reza Priyambada mengatakan bahwa masih melemahnya yield obligasi Amerika Serikat membuat laju dolar AS tertahan sehingga rupiah kembali terapresiasi. Sebagian pelaku pasar uang juga tampaknya memanfaatkan penguatan dolar AS pada hari sebelumnya untuk aksi ambil untung dan beralih mengakumulasi rupiah.
"Rupiah kembali terapresiasi terhadap dolar AS. Namun pelaku pasar diharapkan tetap mencermati berbagai sentimen yang dapat mempengaruhi rupiah menjelang akan dirilisnya data ekonomi AS pada akhir pekan ini," katanya.
IHSG
Sementara itu, IHSG di BEI dibuka menguat sebesar 11,33 poin seiring dengan sentimen ekonomi dari dalam negeri yang positif.
IHSG BEI dibuka naik 11,33 poin atau 0,21 persen menjadi 5.305,11 poin. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak menguat 2,86 poin (0,32 persen) menjadi 887,17 poin.
"Sentimen dari dalam negeri yang terbilang positif serta sentimen dari bursa saham di kawasan Asia yang melanjutkan kenaikan mendukung pergerakan IHSG," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Kamis.
Ia menambahkan bahwa ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh pada kisaran 5-5,1 persen pada 2016. Hal itu menunjukkan sesuatu yang baik karena kondisi ekonomi global masih melambat dan penuh ketidakpastian.
"Ekonomi yang tumbuh itu diiringi dengan pengendalian inflasi yang baik. Pada 2016, inflasi terjaga pada level 3,02 persen," katanya.
Sementara itu, pengamat pasar modal Aria Santoso mengatakan bahwa yang akan menjadi perhatian pelaku pasar selanjutnya adalah adanya harapan pertumbuhan ekonomi di AS yang dapat memicu perpindahan dana dari negara berkembang ke AS.
"Sebenarnya ada 'new hope' di AS berkenaan dengan ekonominya yang dikhawatirkan memicu 'capital outflow'," katanya.
Kendati demikian, ia optimistis investor masih terus mencari tempat investasi di negara berkembang yang memiliki prospek pertumbuhan bagus. Sejauh ini Indonesia masih dinilai positif ekonominya.
"Pemerintah Indonesia cukup tanggap menghadapi kondisi global sehingga masih menarik bagi investor global dan regional untuk masuk ke Indonesia," katanya.
Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng menguat 303,88 poin (1,32 persen) ke level 23.353,00, indeks Nikkei naik 271,08 poin (1,42 persen) ke level 19.329,94 dan Straits Times menguat 14,19 poin (0,48 persen) posisi 3.055,79. (*)
Pewarta: SupervisorEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.