Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah dalam transaksi antar bank di Jakarta pada Selasa pagi turun tiga poin sedangkan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun tipis sebesar 5,82 poin.
Nilai tukar rupiah dalam transaksi antar bank di Jakarta pada Selasa pagi turun tiga poin menjadi Rp13.521 per dolar AS.
"Nilai tukar rupiah relatif bergerak stabil. Pasar cenderung masih dibayangi beberapa kekhawatiran seperti inflasi November 2016 yang berpeluang naik serta rencana demonstrasi pada akhir pekan ini," kata ekonom Samuel Sekuritas, Rangga Cipta.
Ia mengatakan permintaan dolar AS yang meningkat menjelang akhir bulan juga turut membuat rupiah cenderung melemah meski terbatas.
Namun, menurut dia, rupiah juga masih berpotensi kembali menguat menyusul imbal hasil surat utang negara (SUN) yang mulai turun mengikuti tren global dan itu menandakan mulai meredanya aliran keluar dana asing dari dalam negeri.
Selain itu, ia mengatakan, pelaku pasar uang juga mulai dapat memperhitungkan efek negatif dari kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.
Di sisi lain, lanjut dia, harga minyak berpeluang naik setelah anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan sepakat memangkas produksi walaupun finalisasinya masih menunggu kesepakatan mengenai besaran pemangkasan.
Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk Rully Nova mengatakan bahwa para pelaku pasar juga cenderung "menanti dan melihat" menjelang rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).
"Pergerakan mata uang negara berkembang masih dibayangi oleh potensi kenaikan suku bunga AS," katanya.
IHSG
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, dibuka turun tipis sebesar 5,82 poin di tengah kondisi perekonomian domestik yang relatif stabil.
IHSG BEI dibuka melemah 5,82 poin atau 0,11 persen menjadi 5.108,75. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 0.17 persen menjadi 850,76.
"IHSG melemah, namun beberapa saat kemudian indeks berbalik arah ke area positif menyusul sentimen dari dalam negeri ini yang beredar cukup kondusif," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, sentimen dari penilaian lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) atas ekonomi Indonesia yang cukup baik serta demonstrasi aksi damai yang diproyeksikan berjalan kondusif menjadi salah satu faktor yang menopang IHSG.
Ia mengemukakan bahwa secara garis besar, penilaian IMF terhadap ekonomi Indonesia tahun 2016 dalam kondisi baik, didukung oleh bauran kebijakan makroekonomi dan reformasi struktural yang sehat.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat, inflasi dan defisit transaksi berjalan tetap terjaga. Semua pencapaian itu mendukung outlook perekonomian yang positif," katanya.
Terkait demonstrasi, lanjut dia, adanya kesepakatan antara pihak pelaku aksi damai dengan Kepolisian dapat menghindari terjadinya kekerasan. Kendati demikian, tetap perlu diwaspadai munculnya hal-hal yang tidak diinginkan dalam aksi tersebut.
"Bagi pelaku pasar, dengan adanya kesepakatan itu diharapkan dapat memberikan kenyamanan dalam melakukan investasi di pasar saham Indonesia," katanya.
Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng menguat 29,52 poin (0,13 persen) ke level 22.860,09, indeks Nikkei turun 44,70 poin (0,24 persen) ke level 18.313,28, dan Straits Times menguat 3,85 poin (0,13 persen) posisi 2.878,53. (*)
Pewarta: SupervisorEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.