Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak melemah sebesar 28 poin sedangkan  Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Birsa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah tipis sebesar 4,98 poin.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak melemah sebesar 28 poin menjadi Rp13.368, dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.340 per dolar AS.

"Rupiah kembali bergerak melemah sejalan dengan penguatan dolar AS di pasar kawasan Asia," kata ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Kamis.

Meski rupiah melemah, lanjut dia, relatif sudah mulai terbatas, secara umum permintaan dolar AS di dalam negeri sudah berkurang drastis terlihat dari pasar saham dan surat utang di dalam negeri mulai stabil dengan kecenderungan menguat.

Ia menambahkan bahwa fokus pelaku pasar hari ini (17/11) akan tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang sudah dimulai semenjak Rabu kemarin (16/11).

"BI yang semakin condong mendukung pertumbuhan semenjak 3 bulan terakhir diperkirakan mengutamakan stabilitas dengan mempertahankan suku bunga acuan (BI 7-Day Repo Rate) di level 4,75 persen.

Dari eksternal, lanjut dia, pelaku pasar uang juga menanti angka inflasi Amerika Serikat Oktober 2016 serta testimoni Kepala The Fed Janet Yellen di depan kongres yang diperkirakan membahas dampak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS terhadap pasar keuangan.

Analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk, Reny Eka Putri menambahkan fluktuasi mata uang rupiah masih bergerak dalam kisaran terbatas seiring dengan aksi wait and see pelaku pasar uang terhadap sejumlah kebijakan, baik dari dalam negeri maupun eksternal.

Di tengah aksi wait and see itu, ia memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah pada pekan ini akan bergerak di kisaran Rp13.290-Rp13.380 per dolar AS.


IHSG Melemah

Sementara itu, IHSG  di BEI, Kamis, dibuka melemah tipis sebesar 4,98 poin seiring dengan aksi ambil untung investor.

IHSG BEI dibuka melemah 4,98 poin atau 0,10 persen menjadi 5.180,48. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 1,25 poin (0,14 persen) menjadi 868,79.

"IHSG terkena aksi ambil untung oleh pemodal setelah mengalami penguatan pada hari sebelumnya," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan bahwa tekanan atas pasar saham Indonesia juga masih datang dari eksternal. Pasalnya, investor juga sedang menantikan kebijakan yang akan ditempuh Trump, karena kebijakan yang dikeluarkan juga cukup mempengaruhi ekonomi Indonesia.

Ia mengemukakan bahwa Donald Trump membawa tiga isu penting mengenai kebijakan perdagangannya, yakni melakukan tindakan keras dan tegas ke Tiongkok yang dianggap telah memanipulasi mata uang untuk meningkatkan ekspor. Kemudian, negosiasi ulang perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara (NAFTA). Dan, menolak Trans Pacifik Partnership (TPP).

Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menambahkan bahwa volatilitas mulai terbatas, indeks BEI menunjukkan mulai bergerak konsolidasi dengan peluang penguatan masih terbuka.

"Potensi penguatan masih terbuka ditopang oleh kondisi perekonomian yang stabil, dan semakin berkurangnya aliran dana asing yang keluar dari pasar saham domestik," katanya.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng menguat 34,08 poin (0,15 persen) ke level 22.314,61, indeks Nikkei turun 12,84 poin (0,07 persen) ke level 17.849,37, dan Straits Times menguat 13,45 poin (0,50 persen) posisi 2.808,39. (*)



Pewarta: Supervisor
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026