Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Pemkab Banyuwangi Iskandar Aziz di Banyuwangi, Senin menjelaskan jumlah penduduk Banyuwangi yang belum melakukan perekaman data untuk KTP elektronik mencapai 56.014 orang dari 1.288.630 wajib KTP.
"Mereka yang belum melakukan perekaman kebanyakan adalah para perantau yang bekerja di luar Banyuwangi, para lansia, dan wajib KTP pemula yang jumlahnya terus naik," katanya.
Dispendukcapil, katanya, saat ini sudah menyiapkan sarana dan prasarana. Bahkan, memberikan layanan sampai Hari Sabtu dan Minggu untuk mempercepat jumlah perekaman data. Setiap hari Dispendukcapil menerjunkan dua tim untuk melakukan perekaman di lokasi yang berbeda.
"Kami jemput bola setiap hari, bahkan petugas kami kerja hingga Sabtu dan Minggu untuk turun ke desa-desa dan rumah warga bila ada yang lansia ataupun yang sakit. Jadi kita yang ke sana. Minggu kemarin kami sudah ke kecamatan Muncar, dilanjutkan hari ini juga," katanya saat di lokasi perekaman.
Selain petugas Dispendukcapil, perekaman data KTP elektronik dengan sistem jemput bola ini juga dilakukan oleh setiap kecamatan.
"Kecamatan kan punya dua alat, satu standby di kantor bila sewaktu-waktu ada yang mengurus, satunya lagi langsung turun ke desa dan rumah warga," ujar Azis.
Pelayanan jemput bola perekaman KTP elektronik di Banyuwangi, kata dia, sebenarnya telah dilakukan sejak 2013. Karyawan Dispendukcapil sebelumnya aktif melakukan perekaman, antara lain di rumah jompo, mendatangi sekolah SMU untuk merekam wajib KTP pemula, hingga ke pusat rehabilitasi.
"Kami bekerja keras menyukseskan target Mendagri Tjahjo Kumolo untuk terus melakukan perekaman KTP elektronik," ujarnya.
Seperti yang terlihat Senin siang di rumah Suud Raharjo, warga Dusun Tembakon, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. Di halaman rumahnya yang juga menjadi bengkel mobil, petugas Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Banyuwangi melakukan perekaman data.
Sekitar 20 warga tampak mengantre untuk menunggu perekaman data itu. Warga tampak antusias merespons aksi jemput bola dari petugas tersebut.
Warga yang pertama mendapat giliran adalah Suanah. Perempuan berusia 60 tahun itu menderita lumpuh akibat stroke. Rumah Suanah berjarak satu kilometer dari rumah Suud. Dia datang difasilitasi penjemputan oleh petugas kecamatan setempat.
Suanah dengan lancar menjalani pemotretan walau harus dengan dibopong. Dengan didampingi saudaranya, Suanah mulai melakukan perekaman sidik jari dan retina.
Bukan hanya mereka yang sakit, banyak warga biasa yang memanfaatkan layanan jemput bola ini. "Saya dengar pengumuman di masjid semalam bahwa ada perekaman KTP elektronik, makanya saya ke sini. Saya dan suami mau urus KTP karena alamat saya pindah, sementara nama suami yang tertera juga salah," ujar Suciana, warga Kelurahan Banjarsari.
Sebelumnya, petugas juga melakukan perekaman data pada empat lansia di Lingkungan Sukorojo di kecamatan yang sama. Mereka yang melakukan perekaman data ini rata-rata berusia di atas 70 tahun.
"Saya diberitahu ada perekaman KTP dan diajak ke sini," ujar Misnah, warga berusia 80 tahun yang mengikuti perekaman data.(*)
Pewarta: Masuki M. AstroEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.