"Setelah dua hari pelaksanaan Festivak Kopi Nusantara tepatnya Selasa (26/7), kami mewakili Pemerintah Kabupaten Bondowoso diundang ke Kemenko PMK di Jakarta, disana kami rapat dengan beberapa kementerian lainnya, yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian," ujar Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Bondowoso Muhammad Erfan di Bondowoso, Jumat.
Ia mengemukakan bahwa undangan rapat di Kemenko PMK, membahas terkait pengembangan kopi arabika di Bondowoso. Dan dari hasil rapat dengan sejumlah kementerian itu, Kabupaten Bondowoso diusulkan sebagai salah satu sentra pengembangan kopi arabika se-Indonesia.
Sedangkan untuk sentra pengembangan kopi robusta, kata dia, yang ditunjuk untuk diusulkan adalah dari Kabupaten Tanggamus, Lampung.
"Nantinya dari masing-masing kementerian akan mengusulkan ke tingkat menteri masing-masing. Selanjutnya keputusan usulan Bondowoso sebagai sentra pengembangan kopi arabika dan Kabupaten Tanggamus, Lampung, kopi robusta akan diputuskan oleh menteri," katanya.
Erfan menegaskan, dengan diusulkannya Bondowoso sebagai sentra pengembangan kopi arabika se-Indonesia atau sebagai percontohan pertanian kopi arabika, akan lebih rapi lagi dan terus melakukan pengawasan terhadap petani kopi arabika untuk menjaga kualitas.
"Kalau Bondowoso sudah menjadi sentra pengembangan kopi arabika, tentunya akan semakin kuat dukungan dari pemerintah pusat. Kalau untuk menambah luasan tanaman kopi Perhutani tentu mendukungnya yang penting tidak menggangu tegakan," katanya menegaskan.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bondowoso menggelar Festival Kopi Nusantara di Lereng Gunung Ijen, Kecamatan Sempol yang pesertanya dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia. Dari festival kopi itu, salah satu kelompok petani kopi Bondowoso menjadi juara uji cita rasa apda festival kopi yang baru pertamakalinya dilaksanakan di Indonesia. (*)
Pewarta: Novi HusdinariyantoEditor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.