Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta serta
Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (IHSG BEI) Jumat pagi bergerak melemah.
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat pagi bergerak melemah menjadi Rp13.224 per dolar AS.
"Dolar AS mengalami penguatan terhadap sebagian mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah setelah data klaim tunjangan pengangguran di Amerika Serikat menurun," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat.
Ia megemukakan, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah individu yang mengajukan tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir 23 April turun 9.000 menjadi 257.000 dari pekan sebelumnya yang direvisi menjadi 248.000.
Sebelumnya analis memperkirakan klaim tunjangan pengangguran naik sebanyak 12.000 menjadi 260.000 pada pekan lalu.
Kendati demikian, menurut dia, penguatan dolar AS itu masih terbatas karena dibayangi laju ekonomi yang melambat. Dilaporkan, ekonomi Amerika Serikat tumbuh 0,5 persen di kuartal pertama tahun 2016 ini, terendah sejak kuartal pertama 2014. Sebelumnya, estimasi pertumbuhan Amerika Serikat oleh ekonom sebesar 0,7 persen.
Di sisi lain, lanjut dia, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang minim memberikan petunjuk untuk menaikkan suku bunga acuannya (Fed fund rate) akan menambah beban bagi dolar AS ke depannya.
"Laporan data ekonomi Amerika Serikat yang bervariasi, serta minimnya sinyal dari The Fed untuk menaikkan suku bunganya akan menahan laju dolar AS lebih tinggi," katanya.
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan, paket kebijakan ekonomi jilid XII yang telah diluncurkan dapat memengaruhi laju rupiah untuk bergerak di area positif.
"Sentimen internal cukup bagus apalagi estimasi inflasi April yang akan diumumkan pada awal pekan depan (Senin, 2/5) masih stabil," katanya.
IHSG
Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (IHSG BEI) turun 9,02 poin atau 0,19 persen menjadi 4.839,36 pada pembukaan perdagangan Jumat.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak melemah 2,22 poin (0,27 persen) menjadi 832,18.
"Sentimen negatif dari domestik mengenai laporan kinerja emiten secara kuartal yang cenderung melambat dan bursa saham eksternal yang negatif memberikan tekanan terhadap pergerakan IHSG," kata Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo.
Ia mengemukakan bahwa menjelang batas akhir laporan kinerja kuartal I 2016, emiten terlihat mulai mempublikasikan laporan keuangannya, setidaknya beberapa emiten berkapitalisasi besar sudah menyampaikan kinerjanya.
"Dari emiten-emiten yang telah menyampaikan laporannya terlihat hanya sedikit yang bisa membukukan kinerja di atas harapan pasar," tuturnya.
Kinerja emiten yang cenderung melambat, menurut dia, memunculkan keraguan investor mengenai data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan dipublikasikan Mei dan situasi itu membuat pemodal mengambil posisi defensif.
"Namun pelaku pasar masih dapat mencermati saham-saham sektor konsumer yang secara umum kinerjanya cenderung bagus pada kuartal I 2016 ini," ucapnya.
Satrio mengatakan bursa saham kawasan Asia juga cenderung melemah, terdampak penurunan indeks Dow Jones Industrial (DJI) setelah kinerja yang kurang positif dari emiten di sana.
Indeks Bursa Hang Seng melemah 272,73 poin (1,28 persen) ke level 21.115,30; indeks Nikkei turun 624,44 poin (3,61 persen) ke level 16.666,05; dan Straits Times melemah 11,96 poin (0,41 persen) ke posisi 2.850,82. (*)
Pewarta: Slamet Hadi PurnomoEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.