Jakarta (Antara) - Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta, Rabu pagi, turun 80 poin dari posisi kemarin sore menjadi Rp13.778 per dolar AS, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,7 poin.

"Kembali melemahnya laju harga minyak mentah dunia membuat laju dolar AS melanjutkan penguatan terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Ia mengatakan harga minyak mentah di New York Mercantile Exchange turun 1,80 persen menjadi 37,19 dolar AS per barel dan sentimen dari penurunan itu menahan rupiah bergerak ke area positif.

"Namun potensi pembalikan arah bagi rupiah masih cukup terbuka menjelang penutupan akhir tahun. Diharapkan imbas pelemahan harga minyak mentah dan sejumlah harga komoditas tidak lebih dalam," katanya.

Analis PT Monex Investindo Futures Yulia Safrina mengatakan sentimen dari laporan ekonomi Amerika Serikat yang cukup positif juga menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan nilai tukar dolar AS.

Investor, ia mengatakan, juga sedang menanti laporan dari sektor properti Amerika Serikat. Laporan penjualan rumah yang tertunda bulan November dari asosiasi pengembang Amerika Serikat diperkirakan 0,6 persen dari 0,2 persen pada bulan sebelumnya.

"Data yang lebih baik dari prediksi berpotensi meningkatkan valuasi dolar AS lebih tinggi lagi," katanya.

IHSG Menguat

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu dibuka menguat sebesar 4,70 poin atau 0,10 persen menjadi 4.574,06.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 1,33 poin (0,17 persen) menjadi 789,23.

"IHSG pada sesi awal perdagangan bergerak menguat di penghujung akhir tahun 2015. Secara statistik periode 2005-2014 probabilitas kenaikan IHSG di akhir tahun menunjukkan kenaikan dengan tingkat probabilitas mencapai 90 persen. Dengan demikian peluang penguatan bagi IHSG hingga sesi akhir perdagangan terbuka lebar," kata Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut ia mengatakan, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di penghujung tahun 2015 ini juga masih menjadi sentimen positif bagi pergerakan IHSG, yakni mengenai penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium yang akan efektif pada 5 Januari 2016.

Selain itu, lanjut dia, sentimen pasar untuk prospek sektor konstruksi pada tahun depan juga cukup atraktif seiring pernyataan dari Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang telah melakukan lelang 50 persen paket pekerjaan tahun anggaran 2016 senilai Rp29,6 triliun.

Sentimen eksternal, lanjut dia, juga masih positif setelah pasar saham Amerika Serikat dan Eropa ditutup bergerak naik tadi malam, kondisi itu berdampak bagi bursa saham di kawasan Asia, termasuk IHSG.

"Adanya akumulasi sentimen positif dari dalam dan eksternal akan mendukung IHSG untuk berada di area positif," katanya.

Secara teknikal, Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menambahkan, IHSG berpotensi menuju level 4.608 poin sebagai level psikologis batas atas. Level itu perlu dicapai untuk memperkuat pola kenaikan.

"Di hari terakhir perdagangan tahun 2015 ini, IHSG masih memiliki potensi untuk melanjutkan kenaikan," katanya.

Sementara itu, bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng turun 7,99 poin (0,04 persen) menjadi 21.991,63, indeks Nikkei menguat 100,01 poin (0,53 persen) ke level 19.082,24, dan Straits Times menguat 2,26 poin (0,08 persen) ke posisi 2.890,24. (*)



Pewarta: Supervisor
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026