Madiun (Antara Jatim) – Sedikitnya tercatat 21 desa yang tersebar di lima kecamatan di Kabupaten Madiun rawan longsor, kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun Edy Harianto.
Desa-desa rawan longsor tersebut berada di Kecamatan Dagangan ada enam desa meliputi Desa Mendak, Tileng, padas, Ngranget, Segulung dan Ketandan. Kecamatan Wungu (Desa Kresek), Kecamatan Kare enam desa (Bodag, Kare, Randualas, Bolo, Kepel dan Cermo), kata Edy saat ditemui di sela-sela pengecekan peralatan System Peringatan Dini Tanah Longsor di Dusun Tegir, Desa Padas, Kecamatn Dagangan, Madiun, Kamis..
Di Kecamatan Gemarang terdapat enam desa rawan longsor (Desa Winong, Batok, Durenan, Tawarngrejo, Gemarang, Nampu), sedangkan di Kecamatan Saradan dua desa (Sumberbendo dan Klangon).
“Kabupaten Madiun memiliki banyak wilayah rawan longsor. Namun kami telah berkoordinasi dengan muspika (camat, Danramil dan Kapolsek), kepala desa serta tim reaksi cepat untuk mengantisipasi bila sewaktu-waktu terjadi bencana tanah longsor di wilayah masing-masing,” ujar Edy Harianto.
Ditemui terpisah, Tono, salah seorang relawan Tim Reaksi Cepat (TRC) membenarkan apa yang diungkapkan Edy. Tono tinggal di Dusun Tegir, Desa Padas yang merupakan daerah rawan longsor mengaku telah mengikuti pelatihan dan simulasi penanganan bencana tanah longsor.
“Tahun lalu, kami mengikuti simulasi penanganan bencana tanah longsor di tempat ini juga. Kebetulan Dusun Tegir termasuk kawasan rawan longsor, dan sudah dua kali terjadi bencana longsor,” terang Tono.
Data di BPBD Kabupaten Madiun menyebutkan, sepanjang tahun 2013 terjadi 16 kali bencana tanah longsor. Selanjutnya pada 2014 terjadi 6 kali bencana tanah longsor.
Kebutuhan EWS Longsor
Hingga saat ini, di wilayah Kabupaten Madiun yang memiliki 21 desa rawan bencana longsor tersebut hanya memiliki satu unit system peringatan dini longsor (EWS/erarly warning system). EWS tersebut berada di Dusun Tegir, Desa Padas, Kecamatan Dagangan.
“Hingga saat ini, kita hanya memiliki sebuah EWS saja. Ini bantuan Dinas ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Provinsi Jawa Timur,” kata Edy. Padahal menurut dia, sedikitnya harus ada lima unit EWS untuk mendeteksi dini bencana tanah longsor di Kabupaten Madiun.
Edy menjelaskan, EWS di Dusun Tegir tersebuti terkoneksi dengan Dinas ESDM, sehingga bila sewaktu-waktu terjadi perkerakan tanah, maka alat tersebut akan mengirim sinyal ke Dinas ESDM Propinsi Jatim. Maka bila terjadi bencana tanah longsor, alat tersebut berfungsi mendeteksi dini agar segera bisa dilakukan antisipasi dan diharapkan tak sampai jatuh korban.(*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.