Malang (Antara Jatim) - Beberapa petinggi dan mantan rektor Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, harus "turun gunung" demi mengembalikan akreditasi A setelah dilakukan penilaian oleh tim asesor pada November 2013. "Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak, termasuk mantan rektor Bambang Guritno dan Afnan Troena yang tiada lelah melakukan pendekatan di lingkungan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Alhamdulillah, sekarang Universitas Brawijaya (UB) sudah kembali ke 'habitatnya' di level A," kata Rektor UB, Muhammad Bisri di Malang, Kamis. Ia mengakui perjuangan untuk mendapatkan kembali akreditasi A tersebut cukup panjang, bahkan harus menempuh langkah banding atau peninjauan kembali hasil asesmen Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) dengan melampirkan berbagai pertimbangan berdasarkan fakta di lapangan. Dari pencapaian pemeringkatan internasional, katanya UB berada di posisi yang cukup bagus, namun kenapa akreditasinya justru turun menjadi B setelah digenggam selama hampir lima tahun (2009 hingga awal 2014). Itu artinya, ada yang salah dalam proses penilaian. Pencapaian Pemeringkatan Internasional yang dilakukan Webometrics, UB berada di peringkat keenam dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia (Agustus 2014) atau di bawah UGM, UI, ITB, IPB, serta UNDIP. Sedangkan berdasarkan pemeringkatan 4ICU, UB berada di peringkat kelima (2014) dan QS Star Asia, UB di peringkat keempat bersama Unair, IPB, UNDIP, dan ITS Surabaya. Lebih lanjut, Bisri mengatakan sejak terakreditasi A pada tahun 2009 hingga 2013, UB menunjukkan kemajuan yang sangat baik di bidang tri dharma perguruan tinggi, prestasi di tingkat internasional, dari hasil Webomatrics, akreditasi internasional program studi, sertifikasi SMM ISO 9001:2008 untuk seluruh unit kerja. Melihat kondisi di lapangan yang cukup bagus tersebut, katanya, tim asesor internal UB memperkirakan nilai UB telah melebihi ketentuan 361 untuk bisa meraih akreditasi A, tapi kenapa tim asesor BAN-PT hanya memberikan nilai 357 ketika melakukan tinjauan lapangan pada November 2013. Ternyata, katanya, setelah dilakukan evaluasi, ada borang yang tidak sesuai dengan kondisi ketika kunjungan laporan dan tim UB sudah melaporkannya pada Tim Asesor BAN-PT, namun yang menjadi pedoman tetap isian (borang) yang dikirimkan sebelum kunjungan lapangan. Sementara Ketua Pusat Jaminan Mutu UB, Ahmad Wicaksono mengatakan isian borang yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan waktu kunjungan lapangan tesrebut adalaj jumlah doktor. Dalam isian borang dikirimkan, jumlah doktor hanya 502 orang, namun pada saat kunjungan tim pada November 2013 sudah bertambah menjadi 535 orang dan perubahan itu telah dilaporkan. "Meski sudah kami revisi dan kami laporkan, tim asesor tetap berpegang pada daftar isian. Oleh karena itu, kami mengajukan banding dan alhamdulillan banding kami dikabulkan, sehingga UB kembali meraih akreditasi A," tegasnya.(*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026