Surabaya (Antara Jatim) - Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan Kartika Wirjoatmodjo optimistis merger dapat membantu kalangan perbankan khususnya bank dengan modal minim guna menghadapi persaingan saat diberlakukannya kerja sama Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. "Apalagi dengan bank-bank asing yang nanti siap ekspansi ke Indonesia. Sementara ada kebijakan yang pasti dari segi insentif sehingga kami pikir saat ini OJK sudah mengambil posisi lebih kuat dan idealnya bank kecil yang tidak mampu bersaing harus sukarela merger atau diakusisi bank besar," katanya saat penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga (Unair) di Surabaya, Rabu. Kini, ungkap dia, secara nasional terdapat 119 bank umum. Besaran itu dalam segi keefisiensinya dapat dikatakan kurang, khususnya apabila dikaitkan masalah permodalan. "Dengan begitu, perlu ada kebijakan dari otoritas untuk mendorong merger atau konsolidasi tidak hanya pada bank kecil, tetapi juga kepada bank besar," ujarnya. Ia meyakini, merger ataupun akuisisi ini mampu mengantisipasi persaingan antarbank terutama pada tahun 2020 dimulainya liberalisasi perbankan di ASEAN. Untuk itu, perlu dukungan kemudahan regulasi dan insentif. "Selain itu, pemilik bank harus rasional dan tidak mempersulit upaya konsolidasi perbankan nasional," katanya. Terkait MoU di Universitas Airlangga Surabaya, Dekan FEB Unair, Muslich Anshori, menambahkan, ada empat bidang kerja sama dengan LPS yakni penyusunan silabus mata kuliah manajemen perbankan, bank dan lembaga keuangan. "Lalu, implementasi pembelajaran mengenai LPS dan sosialisasi LPS melalui KKN (Kuliah Kerja Nyata) serta penelitian bersama dalam bidang perbankan," katanya.(*)


Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026