Nairobi (Antara/Reuters) - Sedikitnya 20 orang tewas dalam kekerasan antar-suku di Kenya utara, Minggu, kata polisi, membuat ketidakstabilan salah satu dari daerah Kenya yang paling stabil itu berlanjut. Bentrokan antara masyarakat Degodia dan Gare dimulai pada pertengahan Mei dan telah menyebabkan lebih dari 40 kematian di kota Wajir, yang berbatasan dengan Somalia, kata laporan media lokal. Pertempuran itu adalah yang terbaru dalam serangkaian pembunuhan saling-balas yang tampaknya bagian dari sengketa tanah penggembalaan lama dan pertikaian air antara kedua suku. "Saya dapat mengkonfirmasikan bahwa 20 orang telah tewas dalam pertempuran antara milisi dari Degodia dan Gare. Sembilan orang juga terluka", kata Masoud Mwinyi, juru bicara polisi, mengatakan kepada Reuters. Daerah Wajir secara luas dianggap sebagai salah satu bagian paling stabil dari Kenya, dengan bandit berkeliaran di lahan yang sangat luas dan gersang, serta sering gerilyawan Somalia al Shabaab mementaskan serangan lintas perbatasan. Mwinyi mengatakan, polisi telah meluncurkan satu investigasi untuk menentukan apakah bentrokan terbaru Degodia dan Gare itu bermotif politik. Kota Wajir memiliki beberapa jalan di daerah pedesaan dan banyak rincian tentang bentrokan tidak jelas. Tahun lalu, lebih dari 100 orang tewas di daerah Sungai Tana Kenya ketika dua komunitas yang bermusuhan berperang satu sama lain selama berpekan-pekan memperebutkan atas tanah dan sumber daya air. Polisi mengatakan, bentrokan tersebut dihasut oleh para politisi lokal. Masuknya senjata melintasi perbatasan Kenya, khususnya dari Somalia, telah menggiatkan keganasan serangan antar-masyarakat yang bersaingan dalam beberapa tahun terakhir.


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026