Pacitan (Antara Jatim) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mendeteksi sedikitnya 15 kali getaran gempa berskala sedang selama kurun tiga bulan terakhir atau Januari-Maret 2014.
"Sedikitnya 15 kali getaran gempa terdeteksi. Jumlah tersebut di luar gempa-gempa dengan kekuatan kecil," kata Kasi Kesiapsiagaan dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan, Ratna Budiono, Rabu.
Piranti canggih bantuan pamerintah pusat tersebut membantu tim penanggulangan bencana daerah dalam melakukan kesiapsiagaan. Misalnya, lanjut Ratna, dengan peralatan deteksi getaran gempa tersebut, pihaknya bisa memprediksi atau lebih tepatnya menghitung, ritmis dan kekuatan getaran saat satu peristiwa gempa bumi terjadi di satu titik lokasi belahan bumi.
"Ketika gempa bumi berpusat di sekitar Yogyakarta dengan kekuatan tertentu, maka besarnya goncangan yang akan diterima masyarakat di Kabupaten Pacitan akan terbaca," terangnya.
Asumsi yang sama berlaku saat gempa terjadi di daerah lain, seperti gempa yang terjadi di lepas pantai pasifik Chili berkekuatan 8 skala richter dengan kedalaman 10 kilometer pada Rabu (2/4) pukul 06.46 WIB.
"Di peralatan kami akan muncul perkiraan Kabupaten Pacitan akan kena skala berapa (kekuatan gempa) karena rambatan," jelasnya.
Menurut Ratna, munculnya gelombang tsunami lebih dominan dipicu gempa besar diatas 8 SR. Selain energi yang dilepaskan cukup besar, intensitas guncangan juga lebih sering. Meski relatif masih aman, tetapi pihaknya tetap waspada.
"Meski demikian pemerintah daerah melalui BPBD tetap mewaspadai potensi tersebut. Utamanya pada kawasan-kawasan yang memiliki garis pantai," tegasnya.
Di Kabupaten Pacitan terdapat tujuh kecamatan yang sebagian wilayahnya berbatasan dengan laut, yakni Donorojo, Pringkuku, Pacitan, Kebonagung, Tulakan, Ngadirojo, dan Sudimoro. Pantai-pantai di tujuh kecamatan tersebut sebagian besar berupa teluk, sehingga jika memang muncul gelombang tsunami, efek terjangannya lebih kuat. Apalagi untuk kawasan dengan ketinggian dibawah 11 meter.
Saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengirim radiogram ke seluruh BPBD untuk mewasadai potensi datangnya gelombang tsunami akibat gempa Chili.
Juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, gelombang tsunami diperkirakan setinggi setengah meter atau 1,6 kaki, akan berdampak di beberapa daerah di Indonesia pada Kamis pagi.
Sutopo mengatakan bahwa gelombang tsunami pertama bisa tiba sekitar pukul 05.00 WIB pada Kamis pagi di wilayah timur Papua. BNPB telah menyampaikan peringatan tsunami tersebut kepada posko BNPB yang tersebar di 19 provinsi di seluruh Indonesia.
Di pesisir selatan kawasan Mataraman, seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, dan Blitar, gelombang tsunami akibat gempa Chili diprediksi bakal terjadi pada Kamis pagi antara pukul 07.27 WIB hingga 08.30 WIB dengan ketinggian sekitar 10 sentimeter. (*)
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.