Surabaya (Antara Jatim) - Derap langkah PT Pertamina Hulu Energi "West Madura Offshore" (PHE WMO) untuk mendukung ketahanan energi nasional tidak semudah membalikkan telapak tangan, mengingat perjalanan salah satu anak perusahaan Pertamina itu cukup berliku. Apalagi, tak hanya kerikil tajam hingga bongkahan batu ikut menjadi penghambat PHE WMO kala memproduksi minyak dan gas bumi (migas). Di sisi lain, perusahaan yang mendapat amanah pemerintah mengambil alih Kodeco Energy Co.,Ltd sejak tahun 2011, itu wajib merealisasi produksi migasnya baik sesuai target perseroan maupun ketentuan SKK Migas. Untuk meningkatkan produksi migas tersebut, pemerintah dan perusahaan migas termasuk PHE WMO perlu berjalan beriringan, sehingga berhasil melewati alur yang berliku tersebut. Secara umum, berbagai kendala produksi migas di Tanah Air seperti penurunan secara alamiah "natural decline", pengenaan pajak bumi, dan bangunan pada KKKS eksplorasi. Ada pula hambatan seperti peningkatan kapasitas nasional, kendala sosial, permasalahan di daerah, misalnya izin lokasi, regulasi, dan ganti rugi lahan, serta masalah lingkungan dan tumpang tindih lahan. Padahal, tahun 2014 produksi dan "lifting" minyak bumi ditargetkan sekitar 870.000 barel per hari sedangkan produksi dan "lifting" gas diperkirakan 6.854 MMSCFD. Besaran tersebut akan dilakukan perubahan pada APBN-P 2014. Untuk mewujudkan target itu, pemerintah melakukan serangkaian upaya, contoh mendorong optimasi produksi lapangan eksisting, mempercepat pengembangan lapangan baru termasuk pengembangan struktur "idle", dan peningkatan keandalan peralatan untuk mengurangi gangguan produksi. Lalu, meningkatkan penawaran wilayah kerja dan kegiatan eksplorasi dalam rangka menemukan dan menambah cadangan migas baru. Cara lainnya, meningkatkan pengembangan sumber daya hidrokarbon nonkonvensional. Bahkan, melakukan peningkatan koordinasi dengan instasi terkait untuk penyelesaian berbagai permasalahan. Contoh yang berhubungan dengan regulasi, perizinan, keamanan, dan tumpang tindih lahan. Terkait kontribusi PHE WMO bagi masyarakat Jawa Timur, perseroan itu segera melakukan efisiensi untuk suplai gas di provinsi ini dengan merealisasi pemindahan pipa gas eks-Kodeco Energy Co., Ltd yang selama ini membentang di sejumlah titik di alur pelayaran barat Surabaya (APBS). Sesuai rencana, pemindahan itu akan dilakukan tahun 2014 karena adanya hambatan dari sisi administrasi dalam tender pemindahan pipa gas. Namun, sejak akhir tahun 2013 pihaknya telah melaksanakan tender ulang (re-tender) berdasarkan Peraturan SKK Migas dan berlaku bagi perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di sektor migas. Strategi itu dilakukan sebagai permintaan maaf PHE WMO karena mundurnya pelaksanaan pemindahan pipa gas tersebut. Walau hasil studi Tim ITS menyatakan keberadaan pipa gas eks-Kodeco Energy Co., Ltd, aman bagi alur pelayaran maka PHE WMO tetap menunaikan tanggung jawabnya guna memindahkan pipa gas, sehingga bisa tercipta kelancaran dan pengembangan industri di Jatim. Komitmen itu ikut meningkatkan daya saing ekonomi Jatim menyusul 100 persen gas dari PHE WMO siap didedikasikan untuk Jatim. Alokasinya, berupa energi listrik baik melalui Pembangkit Jawa Bali (PJB) maupun sektor industri di sekitar Gresik. Produksi Meningkat Meski sejumlah kendala seolah masih menghantui kegiatan produksi migas di penjuru Nusantara, PHE WMO justru tak gentar dengan permasalahan tersebut. Perlahan tapi pasti, setiap masalah yang muncul selalu diselesaikan dengan baik dan tidak merugikan masyarakat. Upaya tersebut tidak hanya bertujuan memenuhi target perseroan maupun SKK Migas, melainkan demi menciptakan ketahanan energi nasional baik dari sisi pemenuhan angka produksi minyak maupun gas bumi. Bahkan, PHE WMO sekaligus berupaya menguatkan ekonomi nasional, terutama di Jawa Timur melalui peningkatan kinerja produksi minyak dan gas bumi pada masa mendatang. Performa produksi migas PHE WMO yang akrab disebut Blok Madura diungkapkan PJ Direktur Operasi dan Produksi PHE WMO, Bambang H Kardono. Selama tahun 2013, pihaknya mampu mencatatkan produksi minyak dan gas sebesar 18.086 barel minyak per hari (BOPD) dan 114,5 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Besaran tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan di mana pada awal tahun hanya mampu berproduksi sebesar 6.284 BOPD dan 96,4 MMSCFD. Sementara, produksi puncak PHE WMO sempat menyentuh angka produksi harian tertinggi pada tahun 2013 yaitu sebesar 28.262 BOPD dan produksi gas yakni mencapai 125 MMSCFD. "Pencapaian produksi ini merupakan hasil yang didapat melalui berbagai aktivitas eksplorasi dan pengembangan," ujar Bambang. Selain itu, sebanyak tiga sumur eksplorasi dan 24 sumur pengembangan telah berhasil diselesaikan bersamaan dengan melakukan tambahan produksi selama tahun 2013. Salah satunya, melalui reaktivasi lapangan PHE-40 yang berhasil menyumbangkan produksi sebesar 2.508 BOPD dan 12,9 MMSCFD. Lalu, pada tahun sama PHE WMO juga merealisasi pemasangan pipa sepanjang 21 Kilometer dari PHE-38B ke PPP sehingga minyak dan gas dari lapangan PHE 38B sebesar 12.500 BOPD dan 13,7 MMSCFD dapat dialirkan. Masih dikatakan Bambang, ada dua lapangan baru yaitu PHE-54 dan PHE-39 yang juga berhasil memberikan kontribusi produksi sebesar 2.578 BOPD dan 17,7 MMSCFD dari lapangan PHE-54 serta 1.310 BOPD dan 0.6 MMSCFD dari lapangan PHE-39. Pada tahun 2013, PHE WMO melakukan "3D Broadband" Seismik seluas 900 Km persegi. "Kami juga menambah 'contingent resources' (2C) sebesar 29.98 juta barel minyak (MMBO) serta 60.24 miliar kaki kubik (BCF) atau 40.02 juta barel minyak ekuivalen (MMBOE)," tuturnya. Pada tahun lalu, pihaknya juga menambah cadangan (P1) sebesar 16.8 MMBO dan 62.5 BCF atau 27.6 MMBOE. Selain itu, perseroan itupun berhasil memperoleh persetujuan rencana pengembangan (POD) Integrasi-1 dari SKK Migas. "Dengan begitu, Tahun Pemboran yang dicanangkan oleh SKK Migas pada tahun 2013 sangat membantu upaya kami untuk meningkatkan produksi minyak dan gas guna mencapai target," tukasnya. Langkah lain, PHE WMO memiliki komitmen agar pencapaian produksi migasnya selama ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Upaya strategis ini sekaligus membantu pemerintah dalam mengembangkan perekonomian lokal hingga menumbuhkan sektor industri migas nasional. Lingkungan dan Prokebangsaan Dalam mencapai target produksi migas, PHE WMO selalu mewujudkan aktivitas perseroannya dengan mengutamakan manajemen lingkungan. Faktor itu juga menjadi komitmen perusahaan terutama guna meraih prestasi terbaik. Misal, peringkat hijau melalui Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (Proper). Untuk merealisasi performa tersebut, PHE WMO telah mengumpulkan 50 pegawai yang menangani berbagai divisi agar mengikuti Pelatihan Proper bertema "Strategi dan Upaya Pencapaian Proper Hijau (Emas). "Senior HSE & Security Manager" PHE WMO, Tangkas Siahaan, menyatakan, upaya tersebut dilakukan supaya seluruh kalangan di anak perusahaan Pertamina itu semakin memahami secara utuh tentang semangat dan kinerja yang dibutuhkan dalam mencapai peringkat Hijau atau Emas. Pada pelatihan itu, ia menghadirkan tiga narasumber kompeten khususnya di bidang Proper seperti Prof Dr Ir Suma Tjahja Djajadiningrat Msc yang merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Proper dan Ir Sigit Reliantoro MSc sebagai Pengendali Pencemaran Pertambangan Energi dan Migas dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Ada pula Drs Bahruddin selaku praktisi dari UGM dan Dosen Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Terkait Proper, tambah Tangkas, merupakan penghargaan yang diberikan kepada salah satu upaya perusahaan besar di antaranya perusahaan migas secara sukarela untuk menerapkan langsung konsep-konsep lingkungan di dalam kegiatan produksi mereka. Ekstensifikasi Proper juga dapat dilakukan dengan menciptakan jaringan pengawasan dari pemerintah provinsi dan kabupaten maupun kota. Sejak awal berkarya di sektor migas, PHE WMO selalu mengutamakan konsep manajemen lingkungan terutama saat melakukan produksi lepas pantai (offshore) maupun kawasan distribusi di daratan. Tujuannya, untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan kenyamanan masyarakat. Sementara itu, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik, Sofyano Zakaria, mengemukakan, secara umum dengan dikelolanya Blok Madura oleh PHE WMO merupakan bukti sikap pemerintah yang telah mampu menyematkan label prokebangsaan dan kerakyatan serta benar-benar menjauhkan keberpihakan asing di dalam negeri. Pemerintah maupun masyarakat Indonesia juga memiliki harapan sama terhadap salah satu BUMN yang bergerak di sektor migas yakni membesarkan Pertamina sebagai "national oil company". Hal itu bisa terealisasi mengingat Pertamina telah menyatakan kemauan dan menunjukkan kemampuannya dalam mengelola berbagai blok migas. Seperti di "Offshore North West Java/ONWJ" di mana Pertamina mengambil alih pengelolaan dari British Petroleum dan mampu meningkatkan produksi minyak bumi dari 20 ribu menjadi 36 ribu barel per hari. Kemudian, Pertamina juga mengambil alih pengelolaan Blok Madura dari Kodeco Energy Co., Ltd (Korea) dan berhasil meningkatkan produksi minyak bumi dari 9.000 menjadi sekitar 20 ribu barel per hari. "Kedaulatan energi nasional sudah selaiknya dicapai Bangsa Indonesia," katanya. Salah satu upayanya, saran dia, sejumlah blok migas yang akan habis masa kontraknya wajib dikembalikan kepada negara. Kemudian pengelolaannya diserahkan kepada perusahaan nasional. Dengan cara itu, produksi migas dapat digunakan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026