Surabaya (Antara Jatim) - Peneliti Pusat Studi Energi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Fahmy Radhi menilai penaikan harga elpiji 12 kilogram awal tahun 2014 kian memberatkan masyarakat karena sejumlah komoditas vital juga sudah mengalami revisi harga. "Selama tahun 2013, harga BBM bersubsidi dan tarif dasar listrik sudah naik," katanya, dihubungi dari Surabaya, Rabu. Meski demikian, berdasarkan pernyataan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, penaikan harga Elpiji 12 Kg tidak dapat ditunda-tunda lagi karena Pertamina sudah menanggung kerugian dalam jumlah besar setiap tahunnya jika harga tidak segera dinaikkan. "Bahkan, kerugian Pertamina semakin membengkak seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menembus Rp12.000 per dolar AS menyusul perusahaan itu masih harus mengimpor lebih dari 50 persen dari total kebutuhan gas nasional," ujarnya. Tingginya volume impor, jelas dia, mengindikasikan bahwa produksi pengolahan elpiji oleh Pertamina justru tidak efisien karena volume produksi tidak mencapai kapasitas ekonomi sehingga biaya produksi kian besar. Berdasarkan perhitungan Pertamina, harga pokok produksi elpiji 12 Kg mencapai sekitar Rp10.500 perkilogram. "Namun harga jual yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp5.100 perkilogram. Akibatnya kerugian Pertamina mencapai sekitar Rp5.400 perkilogram," katanya. Lebih lanjut Fahmy Radhi mengatakan, harga elpiji bisa tidak mengalami kenaikan pada awal tahun depan jika kondisi pengolahan elpiji dapat efisien. "Apabila hal itu terjadi, Pertamina tidak harus menaikkan harga gasnya. Bahkan, beban ekonomi rakyat terutama para pengguna elpiji tidak perlu kian bertambah," kata Fahmy. Apalagi, Pertamina tidak perlu seolah memaksakan kehendaknya dengan menghamburkan uang untuk mengakusisi PGN, karena uang tersebut lebih bermanfaat untuk membangun infrastruktur pengolahan elpiji. "Daripada menghamburkan banyak uang untuk mengakuisisi PGN, justru dengan cara itu pengolahan gas di dalam negeri bisa lebih efisien," katanya. Padahal, menurut dia, untuk mengakuisisi PGN idealnya Pertamina harus menyediakan dana segar dalam jumlah besar untuk membeli saham PGN yang sudah "go public". Sementara, kini kapitalisasi saham PGN di pasar modal sudah mencapai Rp115 triliun. "Oleh karena itu, Pertamina harus menyediakan dana minimal Rp70 triliun atau setara dengan 56,97 persen dari total saham PGN," katanya. Di sisi lain, tambah dia, sangat wajar kalau kapasitas ekonomi pengolahan elpiji tidak pernah tercapai sehingga berdampak pada terjadinya in-efisiensi. Untuk itu, saat ini satu-satunya upaya untuk menutup kerugian yang diderita Pertamina hanyalah melalui penaikan harga jual elpiji 12 Kg. "Jika setiap tahun Pertamina menyalurkan kurang dari 900.000 ton elpiji 12 Kg kepada masyarakat, kerugian Pertamina mencapai hampir Rp5 triliun per tahun. Sementara, in-efisiensi produksi elpiji tersebut ikut dipicu oleh ketersediaan infrastruktur yang tidak memadai," katanya. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026