Seoul (Antara jatim) - Dosen sosiologi pada Universitas Korea Dr Chul-Kyoo Kim mengemukakan bahwa di tengah perkembangan teknologi dan informasi saat ini, masyarakat di Korea Selatan masih tetap mempertahankan kebudayaan tradisional mereka.
"Kami masih mempertahankan paham kekitaan, sehingga yang dikenal di sini bukan sekolah saya atau keluarga saya, tapi sekolah kita atau famili kita," katanya pada diskusi tentang pemahanan budaya dan sosial masyarakat Korea dengan peserta "Kwanhum-Press Fellowship Program" yang diikuti wartawan dari sembilan negara di Seoul, Senin.
Ia mengemukakan bahwa karena paham kekitaan itu maka jika masyarakat Korea berkenalan biasanya akan ditanyakan juga mengenai keluarganya, asal sekolah atau perguruan tingginya dan lainnya. Jika ada kesamaan latar belakang maka akan lebih akrab lagi.
"Cara memanggil sesama juga masih dipertahankan, misalnya, ke yang lebih tua atau kepada senior. Jadi ada sopan santunnya atau hirarkinya," ucapnya.
Saat itu ia juga memeragakan cara minum jika disajikan dari yang tua kepada yang muda. Orang yang lebih muda harus memegang gelas atau cangkir dengan dua tangan agar dianggap sopan. Kemudian cara meminumnya tidak boleh langsung, melainkan harus sedikit menoleh.
Namun demikian, Chul-Kyoo Kim mengakui bahwa meskipun demikian saat ini ada perubahan yang terjadi di masyarakat Korea. Beberapa hal yang saat dia masih muda masih sangat dipertahankan, saat ini mulai luntur di kalangan anak muda.
Ia mencontohkan panggilan "opa" yang biasanya dilakukan terhadap lawan jenis yang sifatnya cenderung lebih intim atau teman khusus. Namun, ia pernah menemukan seorang mahasiswanya yang memanggil seseorang dengan sebutan "opa" dan di saat lain kepada beberapa orang yang berbeda juga memanggil dengan sebutan "opa".
Mengenai pakaian tradisional, ia juga mengakui bahwa saat ini tidak dipakai dalam kegiatan sehari-hari, melainkan pada hari-hari tertentu, seperti pada peringatan hari kemerdekaan dan lainnya.
Ia mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang menggerakkan perubahan sosial di Korea Selatan, seperti faktor internasional dalam hubungan dengan negara lain, pendidikan, politik, ekonomi dan lainnya.
Pada kesempatan itu ia juga menyebut adanya perkawinan internasional atau campuran di Korea Selatan. Faktanya, kata dia, saat ini lebih banyak pria yang menikah dengan perempuan luar negeri dibandingkan dengan perempuan Korea Selatan yang menikah dengan pria asal luar negeri.
Masalah perceraian juga terjadi, terutama karena berbagai sebab, seperti ekonomi, kultur yang berbeda atau karena masalah kewarganegaraan. Ia menyebut jumlah pasangan yang cerai lebih banyak dari lelaki asal Korea Selatan yang menikah dengan perempuan luar negeri dibandingkan dengan perempuan Korea Selatan yang menikah dengan pria asal luar negeri.(*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.