Malang (Antara Jatim) - Pemerintah Kota Batu, Jawa Timur, menargetkan perolehan pendapatan asli daerah sebesar Rp48 miliar pada akhir tahun 2013 atau naik sebesar Rp12 miliar dari target yang dipatok pada awal tahun yang hanya sebesar Rp36 miliar.
"Meski dalam perubahan anggaran keuangan (PAK) 2013, target pendapatan asli daerah (PAD) dinaikkan, kami tetap optimistis akan terealisasi, apalagi dalam lima tahun terakhir ini PAD Kota Batu juga terus meningkat," kata Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Batu, Zadiem Effisiensi, Kamis.
PAD Kota Batu dalam beberapa tahun terakhir ini meningkat secara signifikan, yakni tahun 2010 sebesar Rp17 miliar, 2011 sebesar Rp19 miliar, 2012 Rp29 miliar serta 2013 sebesar Rp36 miliar pada awal tahun dan melalui PAK dinaikkan menjadi Rp48 miliar.
Ia mengakui beberapa sektor yang menjadi andalan dalam pencapaian target PAD tesrebut adalah sektor pajak dan retribusi, khususnya pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak hiburan dan bea perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan (BPHTB).
Zadiem mengemukakan tren kenaikan PAD tersebut tidak lepas dari iklim investasi yang juga cukup positif dari tahun ke tahun. Investor semakin banyak yang menginvestasikan dananya di Kota Batu.
Iklim investasi yang cukup bagus itu, lanjutnya, juga harus diimbangi dengan sistem layanan publik, terutama perizinan yang bagus pula agar investor tidak kabur dan mengalihkan investasinya ke daerah lain.
Peningkatan sistem layanan, katanya, salah satunya bisa diwujudkan dengan peningkatan status Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT) menjadi sebuah badan yang juga menaungi investasi (penanaman modal) agar layanannya lebih baik dan terpadu.
"Kami yakin kalau layanan perizinan semakin mudah dan bagus, investor akan terus berdatangan untuk menanamkan modalnya di Kota Batu, yang berarti juga PAD juga akan meningkat," ucapnya.
Nilai investasi di Kota Batu dalam lima tahun terakhir ini mencapai Rp1,9 triliun. Sebagian besar investasi itu untuk menggerakkan roda perekonomian dan sektor jasa. Sedangkan investasi yang mendukung sektor wisata tidak lebih dari 30 persen saja.(*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.