Malang Raya (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Batu, Jawa Timur menyatakan konsep pertanian cerdas terintegrasi atau smart integrated farming yang kini masih dirancang akan difokuskan memutus mata rantai tengkulak.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu Hendry Suseno di Kota Batu, Senin, mengatakan, desain besar pertanian cerdas terintegrasi akan menyertakan kerja sama dengan lembaga profesional yang akan bertindak sebagai penyerap dan memasarkan langsung hasil panen petani ke pasar modern.
"Smart integrated farming ini berksinambungan mulai dari awal sampai akhir, di pemasaran nanti ada lembaga profesional yang sudah memiliki link ke pasar modern. Ini menjadi upaya memberantas tengkulak," kata Hendry.
Praktik tengkulak di lapangan dikatakannya memberikan kerugian bagi petani lantaran kerap kali membeli hasil panen dengan harga murah namun menjual ke pasar dengan harga mahal.
Pemkot Batu menekankan bahwa kesejahteraan petani menjadi poin utama di dalam konsep pertanian cerdas ini.
Dia menyampaikan bahwa pihak yang nantinya menjadi penyerap produk pertanian hasil panen petani akan diseleksi secara ketat oleh pemerintah daerah setempat.
"Sehingga produk pertanian yang dipasarkan oleh lembaga tersebut menyesuaikan dengan spesifikasi dan permintaan dari pasar modern," ujar dia.
Pada triwulan I 2026, petsai atau sawi merupakan komoditas dengan hasil panen paling tinggi yang mencapai 28.790,73 kuintal dan wortel mencapai 22.705,39 kuintal.
Selain itu, sektor pertanian di Kota Batu pada triwulan I 2026 mampu menghasilkan panen kentang sebanyak 21.427,56 kuintal, bawang daun 16.015,17 kuintal, kembang kol 15.554,52 kuintal, kubis 11.569,95 kuintal, dan bawang merah 6.391,30 kuintal.
Sedangkan, untuk produksi budidaya bunga hias terdiri dari 10.065,50 kuintal bunga mawar, 2.348,75 kuintal bunga krisan, dan 155,50 kuintal anggrek pot.
Kemudian, produksi buah apel dari wilayah itu pada periode tersebut mencapai 20.312,86 kuintal dan jeruk siem sebanyak 89.039,49 kuintal.
Dinas terkait telah memproyeksikan lokasi pelaksanaan program itu, yakni di lahan seluas 2,5 hektare di wilayah Kelurahan Giripurno, Kecamatan Batu.
Konsep pertanian cerdas terintegrasi dari Pemkot Batu juga akan dijadikan sebagai pilot project yang bisa direplikasi oleh seluruh kelompok tani di wilayah setempat.
"Bertani dengan menggunakan teknologi mampu menghadirkan nilai tambah kepada produk pertanian dan tentu karena program ini merupakan visi misi Pak Wali Kota, kami harus berkolaborasi dengan satuan kerja perangkat daerah lain," katanya.
Pewarta: Ananto PradanaEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.