Bojonegoro (Antara Jatim) - Disnakertransos Bojonegoro, Jatim, Senin, menyerahkan peralatan kerja berupa mesin pompa angin, alat pengupas kedelai juga lainnya kepada 60 warga senilai Rp300 juta dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBH CHT) 2013. Kepala Bidang Pengembangan Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnakertransos Bojonegoro Joko Santoso mengatakan, para penerima bantuan berasal dari daerah penghasil tembakau, di antaranya,Kecamatan Kanor, Sugihwaras, Kedungadem dan kecamatan lainnya. Sesuai ketentuan, katanya, pemanfaatan DBH CHT hanya diperbolehkan dialokasikan untuk pengembangan ekonomi warga di daerah penghasil tembakau. "Semua penerima bantuan dari warga di daerah penghasil tembakau yang baru mengawali kerja bukan warga yang sudah memiliki pekerjaan," jelasnya. Oleh karena itu, katanya, pihaknya juga memberikan pelatihan kerja kepada 60 warga penerima bantuan yang terbagi menjadi dua yaitu pelatihan otomotif dan pelatihan pengolahan hasil pertanian. "Pelatihan otomotif diikuti 20 warga yang terbagi menjadi lima kelompok selama dua pekan. Pelatihan pengolahan hasil pertanian diikuti 40 warga selama enam hari," tuturnya. Ia menjelaskan warga yang mengikuti pelatihan pengolahan hasil pertanian memperoleh pelatihan cara membuat tempe, tahu, keripik tempe, susu kedelai, dan kerupuk ampas tahu. Oleh karena itu, jelasnya, peralatan kerja yang diberikan masing-masing warga berupa mesin pengupas kedelai, kompos gas, cetakan tahu dan peralatan dapur lainnya. Lainnya, jelasnya, sebanyak 20 warga yang terbagi menjadi lima kelompok masing-masing kelompok memperoleh satu mesin pompa angin dan masing-masing warga memperoleh bantuan satu set peralatan bengkel. "Harapan kita setelah memperoleh pelatihan dan peralatan kerja mereka bisa langsung bekerja secara mandiri," tandasnya. Ia menambahkan pihaknya memperoleh alokasi DBH CHT 2013 sebesar Rp800 juta, namun yang dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi masyarakat sebanyak Rp300 juta. Sisanya sebesar Rp500 juta, menurut dia, akan dimanfaatkan untuk program padat karya yaitu pembangunan jalan desa di lima desa masing-masing sepanjang 600 meter/desa yang lokasinya juga di daerah penghasil tembakau. "Padat karya akan dilaksanakan ketika musim kemarau, sehingga warga bisa memperoleh tambahan penghasilan dengan ikut bekerja membangun jalan desa," ucapnya. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026