Oleh Laily Rahmawati
Bogor (Antara) - Peneliti dari Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, menemukan teknologi baru cara mendeteksi ikan dari serangan virus Koi Herpes (KHV) yang mewabah sehingga dapat mencegah kematian massal pada ikan akibat virus tersebut.
"Kami menemukan cara sederhana (menggunakan analisis PCR) untuk memilih ikan mas yang tahan infeksi KHV yakni ikan mas yang memiliki Cyca-DAB1*05 (MHC II) sebagai penanda molekuler," kata Dr. Ir. Alimuddin Peneliti dari Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB, dalam siaran persnya di Bogor, Sabtu.
Alimuddin menjelaskan bahwa Cyca-DAB1*05 (MHC II) adalah penanda molekuler potensial yang bisa digunakan untuk membantu menyeleksi ikan dalam meningkatkan resistensi ikan mas dari KHV.
Inovasi ini merupakan metode sederhana untuk memilih ikan mas tahan infeksi KHV melalui marka molekuler.
Kelebihan lain inovasi ini adalah kemudahan untuk diaplikasikan oleh laboratorium yang memiliki fasilitas PCR dan elektroforesis DNA.
Dengan demikian, pembenih ikan mas dapat memilih calon induk ikan yang tahan infeksi KHV untuk dipelihara, dan biaya untuk memproduksi induk bisa diminimalkan.
Wabah virus KHV pernah terjadi tahun 2002 menyerang ikan mas (dan koi) di Indonesia. Sejak munculnya wabah tersebut tidak dapat hilang dari tubuh ikan dan selalu berulang, terlebih pada musim hujan.
"Virus KHV ini aktif pada suhu air 18-27°C yang mengakibatkan kematian massal bagi ikan," kata Alimuddin.
Lebih lanjut dijelaskanya, ciri ikan yang terkena KHV dilihat dengan mata awam ada pada insangnya yang berwarna putih. Kalau insang sudah putih maka tinggal tunggu waktu dan jika sudah terserang maka populasi ikan ditambak akan habis.
Umumnya serangan KHV terjadi pada musim peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Wilayah Jawa Barat menjadi daerah yang rentan dengan virus ini karena memiliki intensitas hujan tinggi, dengan suhu 20°C-22°C.
"Perlu diwaspai oleh penambak ikan mas. Bahkan sekarang sudah diindikasikan, suhu 25 °C sudah muncul serangan, kemungkinan KHV sudah menyesuaikan diri," katanya.
Alimuddin menyebutkan, vaksi pencegah virus yang dilemahkan telah tersedia, namun harganya sangat mahal dan dari hasil pengujian yang dilakukan ada indikasi virus tersebut sebagian masih virulen.
Selain vaksin, alternatif lainnya dengan manipulasi gen dan mencari ikan dengan genetik yang tahan KHV.
Untuk skala penambak atau petani ikan, lanjut Alimuddin, kondisi demikian tidak menguntungkan, karena akan mengeluarkan biaya besar dalam usaha penambakan ikan.
Ia mencotohkan, pada 2002 ikan mas di Cirata habis terserang virus tersebut dan hanya menyisakan 5 persen dari populasi. (*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.