Surabaya (ANTARA) - Ada penyakit yang tidak selalu tampak di ruang-ruang publik, tetapi diam-diam berjalan bersama kehidupan kota. Ia menyelinap di gang padat penduduk, menumpang pada batuk yang dianggap biasa, lalu berpindah dari satu rumah ke rumah lain tanpa banyak disadari. Tuberkulosis atau TBC adalah salah satunya.
Di Surabaya, kota yang tumbuh sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan jasa di kawasan timur Indonesia, tantangan itu masih nyata. Ketika gedung-gedung baru berdiri dan infrastruktur terus berkembang, persoalan kesehatan dasar, seperti TBC tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menunjukkan bahwa hingga Mei 2026, sebanyak 44.088 suspek TBC telah diperiksa atau mencapai 71,54 persen dari target 61.624 suspek. Dari estimasi 11.412 kasus TBC pada tahun ini, sebanyak 4.191 kasus telah ditemukan.
Angka tersebut memperlihatkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, kemampuan menemukan kasus semakin baik. Di sisi lain, masih terdapat ribuan kasus yang berpotensi belum terdeteksi.
Di sinilah paradoks penanggulangan TBC muncul. Semakin banyak kasus ditemukan, sebagian masyarakat mungkin menganggap situasi memburuk. Padahal dalam epidemiologi, penemuan kasus justru merupakan tanda bahwa sistem kesehatan bekerja lebih aktif. Ancaman terbesar bukanlah kasus yang ditemukan, melainkan kasus yang tidak pernah teridentifikasi dan terus menularkan penyakit.
Karakter TBC memang berbeda dibandingkan banyak penyakit menular lain. Penyakit ini sering berkembang perlahan. Gejalanya kadang dianggap sekadar batuk biasa, kelelahan, atau penurunan berat badan akibat aktivitas berat. Akibatnya, penderita datang berobat ketika kondisi sudah cukup parah.
Kondisi tersebut menjadi lebih kompleks di kota besar, seperti Surabaya, yang memiliki mobilitas penduduk tinggi. Kawasan permukiman padat, aktivitas ekonomi yang berlangsung hampir tanpa jeda, serta interaksi sosial yang intens menciptakan lingkungan yang memungkinkan penularan berlangsung lebih cepat apabila kasus tidak segera ditemukan.
Karena itu, strategi tracing dan screening yang diperkuat Pemerintah Kota Surabaya menjadi langkah penting. Pendekatan ini menunjukkan perubahan paradigma dari menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan menjadi aktif mencari kelompok yang berisiko.
Melampaui pengobatan
Dalam banyak kasus, pertempuran melawan TBC tidak berhenti setelah diagnosis ditegakkan. Tantangan berikutnya justru terletak pada kepatuhan menjalani pengobatan.
TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan, tetapi membutuhkan disiplin tinggi. Pasien harus mengonsumsi obat selama berbulan-bulan. Pada sebagian orang, rasa jenuh, efek samping, hingga tekanan ekonomi membuat pengobatan terhenti di tengah jalan.
Ketika terapi tidak tuntas, risiko yang muncul jauh lebih besar. Bakteri dapat menjadi kebal terhadap obat, sehingga memunculkan TBC resistan obat yang penanganannya lebih rumit, lebih lama, dan lebih mahal.
Data Surabaya menunjukkan bahwa dari 113 kasus TBC resistan obat yang ditemukan, sebanyak 90 pasien telah menjalani terapi. Sementara tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat mencapai 89,36 persen. Capaian ini menunjukkan sistem pengobatan berjalan cukup baik, tetapi masih menyisakan ruang untuk perbaikan.
Keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh tenaga kesehatan. Di balik angka itu terdapat kerja panjang kader kesehatan, keluarga pasien, petugas puskesmas, hingga masyarakat sekitar yang ikut memastikan pasien tidak berhenti minum obat.
Menariknya, Surabaya juga mulai memanfaatkan pendekatan yang lebih modern dalam deteksi penyakit. Penggunaan teknologi pemeriksaan berbasis saliva atau air liur membuka peluang percepatan diagnosis. Selama ini, pengambilan dahak sering menjadi kendala karena tidak semua pasien mampu mengeluarkannya dengan mudah.
Inovasi semacam ini penting karena eliminasi TBC tidak dapat bergantung pada metode lama semata. Dunia kesehatan saat ini bergerak menuju deteksi yang lebih cepat, lebih sederhana, dan lebih mudah dijangkau masyarakat.
Namun, teknologi bukan satu-satunya jawaban. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa faktor sosial sering kali lebih menentukan dibandingkan alat medis. Kemiskinan, gizi yang kurang baik, kualitas hunian, kepadatan permukiman, dan akses layanan kesehatan merupakan faktor yang sangat memengaruhi penyebaran TBC.
Karena itu, pemberantasan TBC sesungguhnya bukan hanya urusan sektor kesehatan. Ia berkaitan dengan pembangunan kota secara keseluruhan. Program perbaikan rumah tidak layak huni, pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas lingkungan, hingga edukasi masyarakat memiliki hubungan langsung dengan upaya menekan penularan.
Dalam konteks ini, Surabaya memiliki modal yang cukup kuat. Keberadaan jaringan Kader Surabaya Hebat menunjukkan bahwa penanganan masalah kesehatan telah melibatkan partisipasi warga. Pendekatan berbasis komunitas semacam ini menjadi aset penting karena TBC sering kali ditemukan lebih cepat melalui kedekatan sosial dibandingkan laporan formal.
Menuju eliminasi
Target nasional eliminasi TBC pada 2030 bukan sekadar angka dalam dokumen kebijakan. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021, Indonesia menargetkan angka kejadian TBC turun menjadi 65 kasus per 100.000 penduduk dan angka kematian menjadi enam kasus per 100.000 penduduk.
Target tersebut sangat ambisius. Indonesia selama bertahun-tahun masih menjadi salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Karena itu, keberhasilan nasional akan sangat bergantung pada kemampuan kota-kota besar seperti Surabaya mengendalikan penularan.
Hal yang menarik, keberhasilan eliminasi TBC tidak hanya diukur dari berkurangnya pasien. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan cara pandang masyarakat terhadap penyakit ini.
Masih ada stigma yang membuat sebagian penderita enggan memeriksakan diri. Ada pula anggapan bahwa TBC identik dengan kelompok tertentu. Padahal penyakit ini dapat menyerang siapa saja.
Ketika stigma masih kuat, pasien cenderung bersembunyi. Ketika pasien bersembunyi, penularan menjadi lebih sulit dihentikan. Di sinilah edukasi publik harus berjalan beriringan dengan layanan kesehatan.
Surabaya telah menunjukkan langkah positif melalui tracing, screening, investigasi kontak, terapi pencegahan, serta pemanfaatan teknologi baru. Namun, perjalanan menuju eliminasi masih panjang. Temuan lebih dari 4.000 kasus hingga pertengahan tahun menjadi pengingat bahwa pekerjaan besar masih menunggu.
TBC bukan sekadar persoalan bakteri yang menyerang paru-paru. Ia adalah cermin tentang bagaimana sebuah kota melindungi warganya yang paling rentan. Kota yang sehat bukanlah kota yang bebas dari penyakit, melainkan kota yang mampu menemukan, merawat, dan memulihkan warganya tanpa meninggalkan siapa pun.
Di Surabaya, perjuangan itu sedang berlangsung. Di balik setiap pemeriksaan, setiap kunjungan kader, dan setiap obat yang diminum tepat waktu, tersimpan harapan sederhana, namun penting. Bahwa setiap warga berhak menghirup udara dengan napas yang lebih panjang, lebih sehat, dan lebih merdeka.
Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.