Madiun (ANTARA) - Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Madiun yang tergabung dalam Tim Percepatan Penanggulangan TBC menggelar Skrining Bina Wilayah Terpadu Investigasi Kontak Tuberkulosis (Sibatik Ulos) guna mencegah penularan di wilayahnya.
Kepala Bidang Penyediaan Layanan Kesehatan, Upaya Kesehatan Perseorangan, dan Upaya Kesehatan Masyarakat, Dinkes PPKB Kota Madiun Neva Candra Suroto mengatakan skrining tersebut menyasar warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
"Begitu ada satu pasien TBC, sebanyak mungkin kontak eratnya harus kami periksa. Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula penularannya bisa dihentikan," ujarnya di Kota Madiun, Jawa Timur, Rabu.
Menurut dia investigasi kontak menjadi cara paling efektif menemukan kasus sejak dini sebelum penyakit menyebar lebih luas.
Adapun skrining melibatkan Dinkes PPKB Kota Madiun, RS Paru Manguharjo, RSUD Kota Madiun, Puskesmas Ngegong, dan Kelurahan Patihan.
Dalam skrining, peserta menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari wawancara, pemeriksaan kesehatan, tes Mantoux, hingga pemeriksaan menggunakan portable X-ray. Warga yang hasil pemeriksaannya mengarah pada TBC akan dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Sedangkan peserta yang belum bergejala, tetapi berisiko tertular, akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Neva menjelaskan program Sibatik Ulos menjadi salah satu strategi Dinkes PPKB Kota Madiun memperluas deteksi dini TBC. Tahun ini kegiatan dilaksanakan di tujuh kelurahan, yakni Kelurahan Banjarejo, Kanigoro, Kejuron, Nambangan Lor, Patihan, Taman, dan Madiun Lor.
Investigasi kontak juga akan diperluas ke 68 lokasi prioritas, termasuk sekolah dan lembaga pemasyarakatan.
Sementara data TBC di Kota Madiun hingga Juli 2026 tercatat ada sebanyak 543 kasus TBC, dengan 171 kasus di antaranya merupakan pasien warga Kota Madiun.
Ia menegaskan bahwa TBC bukan penyakit yang harus ditakuti atau membuat penderitanya dikucilkan. Penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila pasien disiplin menjalani pengobatan selama enam bulan.
Pewarta: Louis Rika StevaniEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.