Surabaya (ANTARA) - Dewan Pendidikan Kota Surabaya bersama Dinas Pendidikan (Dindik) setempat memperkuat literasi digital dan pendidikan karakter siswa guna menghadapi tantangan era digital, mulai dari dampak media sosial, kecanduan gawai, hingga perlindungan anak di lingkungan sekolah.

“Tantangan teknologi ini terjadi di semua jenjang pendidikan. Perlu penguatan aturan terkait batas usia penggunaan media sosial dan pengawasan penggunaan gawai di sekolah agar tidak mengganggu proses belajar mengajar,” kata salah satu anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya Jokhanan Kristiyono di Surabaya, Selasa.

Menurut dia, tantangan terbesar pendidikan saat ini berupa kesenjangan pola pikir antara orang tua dan anak-anak Generasi Alpha (Gen Alpha) dalam menyikapi perkembangan teknologi digital.

Selain isu digital, Dewan Pendidikan bersama Dindik Surabaya juga menyoroti persoalan sosial seperti anak putus sekolah, siswa di bawah umur yang membawa kendaraan bermotor, hingga pernikahan usia dini yang masih ditemukan di sejumlah wilayah Surabaya.

Sebagai langkah konkret, Dewan Pendidikan akan memperkuat koordinasi bersama Dindik Surabaya melalui layanan pengaduan Surabaya 112 untuk menangani persoalan pendidikan dan perlindungan anak.

Ke depan, Dewan Pendidikan bersama Dindik Surabaya juga berencana mengembangkan dashboard pemetaan masalah pendidikan di 31 kecamatan guna membantu pemerintah mengambil kebijakan secara cepat dan tepat sasaran.

“Kami ingin memastikan seluruh anak di Surabaya mendapatkan akses pendidikan yang layak dan berkualitas. Karena itu, Dewan Pendidikan akan terus turun ke lapangan bersama Dindik,” kata Jokhanan.

Kepala Dindik Kota Surabaya Febrina Kusumawati mengatakan anggota Dewan Pendidikan yang baru memiliki latar belakang beragam, mulai dari hukum, komunikasi, teknologi informasi (TI), hingga kesehatan.

“Tantangan pendidikan saat ini bukan hanya soal akademik, tetapi juga perlindungan anak, kesehatan mental, dan literasi digital,” ujar dia.

Pemerintah Kota Surabaya memperkenalkan 11 anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya masa bakti 2026-2030 yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuan untuk memperkuat pengawasan dan advokasi kebijakan pendidikan.

Menurut dia, sinergi antara Dindik Surabaya, Dewan Pendidikan, sekolah, guru, dan orang tua menjadi kunci membangun karakter siswa di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media sosial.

Dindik Surabaya juga memberi perhatian terhadap berbagai persoalan yang banyak dialami pelajar, seperti perundungan, kecanduan gawai, hingga ancaman narkoba.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Vicki Febrianto

COPYRIGHT © ANTARA 2026