Tesis ini saya tulis sebagai refleksi atas realitas kerja jurnalistik di era digital, ketika redaksi menghadapi tekanan komersialisasi, namun tetap harus menjaga integritas dan kode etik jurnalistik
Surabaya (ANTARA) - Kepala Biro Perum LKBN ANTARA Jawa Timur Abdul Malik Ibrahim meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi (M.IKom) dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jatim (UPNVJT) dengan predikat dengan pujian (cumlaude) pada Wisuda ke-97 di kampus setempat, Sabtu.
Malik menyelesaikan studi magisternya dalam waktu 2,5 tahun dengan mengangkat tesis berjudul “Praktik Komodifikasi Khalayak Terhadap Pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik (Studi Kasus LKBN ANTARA Jawa Timur)”.
Ia mengatakan penelitian tersebut ditulis sebagai refleksi atas dinamika kerja jurnalistik di era digital yang semakin kompleks.
“Tesis ini saya tulis sebagai refleksi atas realitas kerja jurnalistik di era digital, ketika redaksi menghadapi tekanan komersialisasi, namun tetap harus menjaga integritas dan kode etik jurnalistik,” ujar Malik.
Dalam kajiannya, Malik menjelaskan komodifikasi khalayak dipahami sebagai transformasi perhatian, data, dan interaksi audiens menjadi nilai tukar yang berpotensi dimonetisasi kepada pengiklan maupun mitra komersial.
Penelitian tersebut bertujuan menganalisis penerapan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), mengidentifikasi bentuk-bentuk komodifikasi khalayak, serta memahami hubungan antara praktik etis jurnalistik dan tekanan komersialisasi di ruang redaksi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi melalui observasi partisipatif di ruang redaksi, wawancara mendalam dengan pewarta, editor, dan manajemen, serta analisis dokumen internal.
Temuan penelitian menunjukkan adanya berbagai manifestasi komodifikasi, mulai dari pemanfaatan data pengunjung, strategi konten berbasis metrik keterlibatan, hingga kecenderungan mengemas berita sebagai produk komersial di tengah tuntutan target produksi.
Meski demikian, mekanisme editorial seperti verifikasi fakta, rapat redaksi, pelatihan jurnalistik, serta proses kompromi redaksional tetap menjadi instrumen utama dalam menjaga penerapan kode etik jurnalistik.
“Kode etik jurnalistik bagi saya bukan sekadar aturan normatif, tetapi juga menjadi ruang negosiasi profesional agar idealisme tetap terjaga di tengah tuntutan industri media,” katanya.
Malik berharap hasil penelitiannya dapat memberikan kontribusi bagi penguatan praktik jurnalisme yang etis di era digital.
“Saya berharap penelitian ini bisa menjadi kontribusi kecil untuk memperkuat praktik jurnalisme yang etis dan bertanggung jawab, khususnya di lingkungan media digital Indonesia,” ujarnya.
Kajian tersebut dinilai memperkaya studi jurnalistik digital di Indonesia melalui penggabungan perspektif ekonomi-politik media dan etnografi ruang redaksi.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026