Ponorogo - Sedikitnya lima pekerja seks komersil (PSK) di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dinyatakan positif tertular HIV/AIDS.au "Informasi resmi kami terima dari dinkes (dinas kesehatan) seperti itu. Dari total 35 ODHA (orang dengan HIV/AIDS yang sudah terdeteksi, lima di antaranya merupakan pekerja seks di sejumlah lokalisasi," ungkap anggota Komisi D DPRD Ponorogo, Rahmad Taufik, Selasa. Ia mengisyaratkan, berdasar hasil evaluasi kasus penyakit menular mematikan tersebut sejak kurun empat tahun terakhir, kecenderungannya terus meningkat. Pada tahun 2007, jumlah ODHA yang terlapor atau terdata di Dinkes Ponorogo baru lima orang. Namun saat ini, jumlah temuannya telah membengkak hingga tujuh kali lipat dengan 35 kasus ditemukan. Rahmad mengaku sangat khawatir, terutama apabila intensitas penemuan kasus akan terus membengkak seiring upaya pihak eksekutif dan legislatif dalam mendoring aktivasi Komisi Perlindungan AIDS (KPA). "Untuk itu Dinas Kesehatan segera melakukan langkah-langkah preventif yang nyata untuk menyelesaikan persoalan tersebut," imbaunya. Dikatakan Rahmad, Komisi D sempat mengusulkan agar kelima pekerja seks komersil (PSK) yang telah teridentifikasi positif mengidap/tertular HIV/AIDS agar dibawa ke luar daerah. Namun usulan ataupun desakan itu langsung ditolak oleh pihak pemerintah daerah, dalam hal ini dinas kesehatan, dengan alasan melanggar hak asazi manusia. "Maksud kami sebenarnya adalah membawa para ODHA berlatar belakang PSK ini ke pusat-pusat rehabilitasi, namun dinkes bersikeras menolak dengan alasan melanggar HAM. Argumentasi itu kami terima, tapi dengan komitmen harus mencari solusi untuk mengatasi sekaligus meminiamisasi potensi penyebaran penyakit ini," terangnya. Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Ponorogo Sapto Jatmiko mengatakan, penderita HIV/AIDS di daerahnya jumlahnya memang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Ia berjanji, pihaknya akan segera mengaktifkan regulasi Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) agar mampu mengantisipasi dan mengidentifikasi secara lebih cepat penderita HIV/AIDS di Kota Reyog. "Masalahnya, anggaran yang tersedia sangat terbatas sehingga perlu adanya optimalisasi. Tahun depan kami akan upayakan agar anggaran bisa dinaikkan," kata Sapto Jatmiko. Ia menambahkan, upaya yang telah dilakukan saat ini adalah bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jatim serta sejumlah sejumlah lembaga nonprofit yang begerak dibidang pencegahan HIV/AIds. Selain itu, Dinkes Ponorogo juga aktif dalam mnggelar kampanye langsung ke sejumlah kawasan aupun kelompok risiko tinggi HIV/Aids. "Secara keseluruhan, diperkirakan penderita HIV/Aids yang ada saat ini bahkan telah mencapai lebih dari 100 orang," ungkapnya berkeyakinan. (*)

Pewarta:

Editor : Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2011