Perusahaan teknologi Bukalapak hari ini menggelar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

"Dengan 'go public' kami ingin lebih banyak masyarakat yang ikut mengawasi Bukalapak supaya bisa menjadi perusahaan yang profesional, tumbuh dengan baik," kata Presiden Direktur Bukalapak, Rachmat Kaimuddin, saat jumpa pers virtual, Jumat.

Bukalapak menunjuk PT Mandiri Sekuritas dan PT Buana Capital Sekuritas sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek, sementara PT UBS Sekuritas Indonesia dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebagai Penjamin Emisi Efek.

Bukalapak menjadi perusahaan rintisan unicorn Indonesia pertama yang melakukan IPO.

Melalui IPO ini, Bukalapak mengumumkan transformasi dari e-commerce menjadi all-commerce, melibatkan ekosistem dagang baik secara luar jaringan (offline) maupun dalam jaringan (online).

Rachmat menyatakan setelah IPO, pengguna di berbagai tempat, baik di kota maupun desa, bisa mendapatkan akses ke layanan jual-beli yang sama.

Bukalapak saat ini fokus untuk listing di Bursa Efek Indonesia. Di sisi lain, mereka juga berencana melakukan penawaran saham perdana di luar negeri dan mulai mengadakan pertemuan dengan calon investor asing.

Rachmat merasa optimistis akan mendapatkan permintaan baik dari dalam maupun luar negeri.

Bukalapak, yang sudah 11 tahun berdiri, per Desember 2020 memiliki jumlah pengguna sebanyak 104,9 juta. Pendapatan mereka pada tahun lalu sebesar Rp1,35 triliun. (*)
 

Pewarta: Natisha Andarningtyas

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2021