Ratusan arsitek mendiskusikan desain masjid yang ada di Indonesia melalui webinar "Mendefinisikan Arsitektur Masjid Yang Nirdefinisi" yang digelar Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur, Jumat.

Arsitek sekaligus Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Eng Bambang Setia Budi dalam materi webinarnya menyampaikan konsep masjid pada zaman dahulu digunakan sebagai aktivitas yang kompleks. Mulai dari ibadah, pendidikan hingga pertemuan serta menampung orang yang tidak punya rumah.

"Seperti Masjid Al Akbar di Surabaya yang dijadikan tempat berkumpulnya manusia yang kompleks, dipakai ibadah, pendidikan, pernikahan  hingga diskusi kajian islam," ujarnya.

Menurutnya aktivitas kompleks ini yang membedakan aktivitas masjid dengan mushala. Karena mushala hanya digunakan untuk ibadah.

Ketua Yayasan Manarul Ilmi Institut Teknologi 10 Nopember (YMI ITS) Tryanto mengatakan webinar ini digelar untuk menyamakan persepsi terkait dasar bangunan masjid sebagai tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) sejumlah arsitek untuk memberikan hibah desain masjid.

Selain itu tema desain masjid diambil karena banyaknya masjid di Indonesia hingga 80.000 lebih. Hal ini menunjukkan keinginan masyarakat dalam membangun masjid cukup besar.

"Untuk itu, menyikapi hal ini YMI berinisiatif dan berkolaborasi dalam mendesain masjid dan segala hal terkait desain masjid," ujarnya.

Sementara itu, Ketua I YMI ITS Adi Dharma mengatakan, arsitek masjid memiliki konsep tipologi yang perlu disamakan antarpara arsitek. Meskipun arsitek memang diberi kewenangan mendesain.

"Dengan webinar ini, untuk menyamakan konsep dasar dalam tata letak sebuah masjid, tipologi kubah, menara, kiblatnya dan lainnya," katanya.

Penyamaan konsep ini khususnya diperlukan bagi arsitek yang akan memberikan hibah desain masjidnya.

"Penataan tempat wudhu yang harus terpisah antara perempuan dan laki-laki, bentuk kubah yang harus lancip ada juga yang tidak harus berbentuk lancip. Penyamaan seperti itu yang perlu didiskusikan," katanya. (*)

Pewarta: Willy Irawan

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2020