Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya akan membuat tempat penyaringan minyak mentah (crude oil) di lokasi semburan minyak bercampur air di salah satu pekarangan rumah warga di Kutisari Indah Utara III/19, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya Eko Agus Supiyadi di Surabaya, Selasa, mengatakan hasil dari semburan minyak bercampur air yang keluar sejak 23 September lalu hingga saat ini masih ditampung dalam drum.

"Saya lupa berapa drum yang dihasilkan dari semburan minyak bercampur air itu. Tapi jumlahnya sudah ada lebih dari 30 drum. Saat ini masih ditampung, belum dijual. Kalau dijual siapa yang mau beli," katanya.

Baca juga: Semburan lumpur di Kutisari Surabaya bertambah jadi dua titik
Semburan lumpur bercampur minyak dan gas yang keluar dari pekarangan rumah Liswati, warga Perumahan Kutisari Indah Utara III/19, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Jawa Timur,  Rabu (25/9/2019), bertambah dua titik. (Lita Hendryani)


Menurut dia, minyak mentah tersebut baru bisa dijual jika sudah melalui proses penyaringan. Meski demikian, lanjut dia, kandungannya minyaknya sedikit dari pada airnya sehingga kalau dijual tidak menghasilkan keuntungan.

"Dijual ke Pertamina juga tidak mau karena tidak ada benefitnya. Banyak airnya," ujarnya.

Untuk itu, lanjut dia, perlu ada treatment pemisahan air dan minyak untuk mengantisipasi agar tidak terjadi polusi di kawasan tersebut. Salah cara dengan membuat tempat penyaringan minyak mentah di lokasi semburan minyak.

"Jadi semacam septic tank nanti hasilnya keluar air dan minyak mentah," katanya.

Baca juga: Semburan lumpur di Kutisari Indah Surabaya bercampur air dan minyak

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan koordinasi dengan pihak Pemerintah Provinsi Jatim terkait dengan rencana tersebut. Pada prinsipnya, kata dia, pihak pemprov sudah sepakat asalkan pemkot membuat surat pengajuan.

"Persoalan itu bisa ditangani sendiri. Nanti hasilnya diberikan ke Pertamina," ujarnya.

Tim Badan Gelologi Nasional dari Bandung sebelumnya melakukan survei permukaan tanah di area sumur minyak di Kutisari Indah Utara III/19 pada Jumat (6/10). Survei tersebut untuk mengetahui apakah masih ada kemungkinan semburan lumpur atau minyak lagi di kawasan itu.

"Dahulu pada zaman Belanda kan ada 35 titik sumur minyak di kawasan Kutsiari. Tapi sebelah mana saja tidak tahu, makanya dicek lagi. Hasilnya survei masih sepekan lagi," kata Eko.
 

Pewarta: Abdul Hakim

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019