Sampang (Antaranews Jatim) - Polres Sampang, Jawa Timur akan menerapkan pengamanan ektra ketat pada pelaksanaan pilkada ulang di wilayah itu, baik di sejumlah alat vital penyelenggara pemilu ataupun di tempat pemungutan suara.

"Satu TPS nantinya akan diamankan minimal 2 personel polisi, bahkan untuk TPS yang masuk kategori rawan hingga 4 personel polisi," kata Kapolres AKBP Budhi Wardiman di Sampang, Kamis.

Kapolres mengemukakan hal ini, menanggapi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menginstruksikan agar KPU Sampang menggelar pemungutan suara ulang karena ditemukan kecurangan saat pelaksanaan pemunguatan suara yang digelar 27 Juni 2018.

"Kalau pada pemungutan suara 27 Juni 2018 kemarin jumlah personel yang diterjunkan sebanyak 1.500 orang, pada PSU ulang nanti bisa mencapai 3.000 personel atau bahkan bisa lebih," ujar kapolres.

Budhi Wardiman mengungkapkan, petugas keamanan yang dikerahkan tiap TPS minimal 2 anggota polisi, tergantung kategori tingkat kerawanan.

Tidak hanya itu saja, bagi TPS yang terjadi ada gugatan sengketa menjadi perhatian khusus petugas keamanan.

"Sudah pasti, jadi nanti TPS yang ada gugatan di MK itu dijaga double, bisa 4 atau bahkan bisa hingga 10 personil," katanya, menjelaskan.

Saat ini, sambung dia, pihaknya mulai berkordinasi meminta bantuan personil ke Polda Jatim dan Polres di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur untuk datang ke Sampang membantu pengamanan, hingga pelaksanaan pemungutan suara ulang digelar.

Budhi menambahkan, pihaknya juga akan berkordinasi dengan ulama, kiai, dan tokoh masyarakat untuk mendukung dan menyukseskan pemungutan suara ulang Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sampang.

"Sebab, keberhasilan pilkada ini bukan hanya dari unsur petugas keamanan, penyelengara pemilu, pemerintah, masyarakat, dan media, akan tetapi semuanya," ujar kapolres.

Pilkada di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur itu dipersoalkan ke MK karena ada dua pasangan calon bupati dan wakil bupati, yakni H Slamet Junaidi-H Abdullah Hidayat (Jihad) dan Hermanto Subaidi-Suparto (Mantap) yang saling klaim memang berdasarkan hasil penghitungan cepat masing-masing tim.

Selain sama-sama mengklaim menang, kedua pasangan ini, juga saling berpesta pora merayakan kemenangan. Keduanya juga menyembelih sapi di posko tim pemenangan masing-masing karena mereka yakin sama-sama menang.

"Data kemenangan kami berdasarkan data valid di masing-masing TPS yang ada di Sampang, berdasarkan laporan saksi," ujar Ketua Tim Pemenangan Mantap Imam Ubaidillah belum lama ini.

Sebelumnya, tim Pemenangan Jihad menggelar deklarasi kemenangan dan berikutnya giliran tim pemenangan Mantap yang menggelar deklarasi kemenangan.

Deklarasi itu dilakukan usai menggelar istighatsah yang dihadiri simpatisan, relawan, ulama, dan kiai, di posko pemenangan Mantap Jalan Trunojoyo Kota Sampang kala itu.

Ketua Tim Pemenangan Mantap Imam Ubaidillah mengatakan, pihaknya telah melakukan hitung cepat berdasarkan data form C-1.

"Hasilnya menunjukkan pasangan nomor urut 2, unggul memperoleh 41,2 persen, sedangkan rivalnya, yakni pasangan nomor urut 1 Jihad hanya memperoleh 39,1 persen," ujar Imam.

Ia menjelaskan, data persetase perolehan suara Mantap itu berdasarkan hasil entri data tim dari laporan masing-masing saksi di lapangan.

"Jadi persentase 41,2 persen ini berdasarkan data masuk 100 persen, selisih 2,1 persen dengan pasangan Jihad. Makanya, acara deklarasi hari ini sebagai bentuk tasyakuran atas kemenangan Mantap berdasarkan hasil hitung cepat C-1 asli," ujar Imam.

Selain itu, pihaknya mengindikasi beredarnya form C-1 palsu di beberapa wilayah sehingga memicu pasangan calon lain mengklaim menang. Termasuk, indikasi penggelembungan suara secara massif dalam pelaksanaan Pilkada Sampang.

Ia mencontohkan, kejadian di salah satu desa di Kecamatan Ketapang. Di sana ada beberapa warga tidak menerima distribusi undangan pencoblosan atau C-6. Namun, data dari C-1 justru warga di desa tersebut tetap hadir dan menggunakan hak suara.

"Padahal warga di desa dimaksud tidak diberi undangan, serta ada lagi saksi paslon Mantap diintimidasi tidak boleh masuk, inikan lucu hak masyarakat dikhianati," ujar Imam.

Sementara itu, pilkada di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur digelar di 1.450 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di 180 desa dan 6 kelurahan yang tersebar di 14 kecamatan Kabupaten Sampang.

Pesta demokrasi lima tahunan guna memilih calon pemimpin itu diikuti tiga pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sampang.

Ketiga pasangan calon itu adalah H Hisan dengan KH Abdullah Mansyur (Hisbullah), didukung Partai Demokrat enam kursi dan PAN tiga kursi atau total sembilan kursi.

Selanjutnya, pasangan calon Bupati Pamekasan H Slamet Junaidi-H Abdullah Hidayat (Jihad) didukung Partai Nasdem dua kursi, PKS 2 kursi, PDIP dua kursi dan PPP tujuh kursi atau total 13 kursi.

Kemudian, Hermanto Subaidi dan Suparto didukung Partai Gerindra delapan kursi dan PKB delapan kursi atau sebanyak 16 kursi.

Daftar pemilih tetap (DPT) di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur untuk pelaksanaan Pilkada 27 Juni 2018 sebanyak 803.499 orang yang terdiri atas 397.031 laki-laki dan 406.468 perempuan. (*)

Pewarta: Abd Aziz

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2018