Bojonegoro (Antara Jatim) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur, menyatakan tanah di kawasan sekitar lapangan sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan, tidak bisa ditanami, akibat tercemar limbah minyak mentah (crude oil).

"Pencemaran minyak mentah di kawasan tanah sumur minyak tua mengacu hasil pemeriksaan labotarorium kandungan tanah yang dilakukan Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Jawa Tengah," kata Kepala DLH Pemkab Bojonegoro Nurul Azizah, di Bojonegoro, Jumat.

Sesuai data yang dilaporkan menyebutkan bahwa  pemeriksaan laboratorium pada 1 Nopember 2017 untuk contoh tanah lapangan sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan, dengan 11 parameter.

"Dari hasil pemeriksaan tanah itu apabila tanah di kawasan lapangan sumur minyak tua tidak ada perbaikan maka tidak bisa ditanami lagi," kata Kepala Bidang Konservasi Pengendalian Lingkungan DLH Mardiantoro menambahkan.

Sesuai hasil uji laboratorium, menurut dia, banyak mikroba  yang terdapat dalam kandungan tanah di kawasan lapangan sumur minyak tua peninggalan Belanda itu yang mati akibat tercemar minyak mentah.

"Harus ada usaha untuk menghidupkan mikroba agar tanah di kawasan setempat bisa ditanami kembali," ucapnya menegaskan.

Namun, menurut dia, untuk pelaksanaan pemberian bakteri dalam tanah agar tanah bisa normal kembali membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Di lain pihak, lanjut dia, faktor penyebab dari sumber pencemaran harus dihentikan terlebih dahulu, agar pencemaran tanah bisa dihilangkan.

"Sampai hari ini Pertamina EP Field 4 Cepu belum melakukan langkah untuk memperbaiki kerusakan lingkungan di lapangan sumur minyak tua yang masuk wilayahnya," ujar Nurul menegaskan.

Direktur PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) Bojonegoro Toni Ade Irawan, mengatakan penanganan kerusakan lingkungan lapangan sumur minyak tua di sejumlah desa di Kecamatan Kedewan, akan dilakukan dengan melibatkan sebuah universitas di Jawa Timur.

Hanya saja, lanjut dia, Pertamina EP Asset 4 Cepu juga harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan kawasan lapangan sumur minyak tua itu.

"PT BBS baru mengelola sebagian lapangan sumur minyak mentah belum genap setahun. Masih banyak produksi minyak mentah yang dikelola KUD untuk kemudian disetorkan ke Pertamina EP Field 4 Cepu," kata dia menjelaskan.

Data di Pertamina EP Asset 4 Field Cepu menyebutkan di Desa Wonocolo, Hargomulyo dan Mbeji, Kecamatan Kedewan,  terdapat 724 titik sumur dengan produksi minyak mentah rata-rata lebih dari 1.000 barel per hari.

Produksi minyak mentah selain disetorkan oleh PT BBS dan KUD kepada Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, lainnya oleh para penambang dijual berupa minyak mentah atau disuling secara tradisional menjadi bahan bakar minyak (BBM) solar. (*)

Pewarta: Slamet Agus Sudarmojo

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2018